Amerika Tertinggal, Tiongkok Kembangkan Teknologi Manusia Super Bersama Ilmuwan Harvard

WANITA yang terkenal sebagai ilmuwan di bidang antarmuka otak-komputer, Charles Lieber, kini telah membangun laboratorium penelitiannya di Shenzhen, Tiongkok. Hal ini terjadi setelah ia dihukum karena membuat pernyataan palsu kepada otoritas AS tentang hubungannya dengan pihak Tiongkok saat meneliti di Universitas Harvard.
Laboratorium tersebut berfokus pada pengembangan teknologi chip elektronik yang ditanamkan ke dalam otak manusia. Teknologi ini memiliki potensi besar dalam mengobati penyakit seperti ALS dan membantu pasien lumpuh memulihkan gerakan. Namun, teknologi ini juga bisa digunakan untuk tujuan militer, seperti menciptakan "prajurit super" dengan meningkatkan ketangkasan mental dan kesadaran situasional.
Lieber, yang merupakan salah satu peneliti terkemuka dunia dalam bidang antarmuka otak-komputer, sebelumnya dihukum karena membuat pernyataan palsu kepada penyelidik federal dan melanggar aturan pajak. Ia menjalani hukuman dua hari penjara, enam bulan tahanan rumah, serta denda $50.000 dan ganti rugi sebesar $33.600 kepada Dinas Pajak Internal.
Setelah menjalani hukuman, Lieber kembali bekerja di Tiongkok dan kini mengawasi i-BRAIN, sebuah institusi penelitian yang didanai oleh pemerintah Tiongkok. Laboratorium ini merupakan bagian dari Akademi Penelitian dan Penerjemahan Kedokteran Shenzhen (SMART), yang menyediakan akses ke fasilitas nanofabrikasi dan infrastruktur penelitian primata yang tidak tersedia di Harvard.
Lieber mengatakan bahwa tujuannya adalah menjadikan Shenzhen sebagai pemimpin dalam bidang penelitian ini. Meskipun ia menolak wawancara dengan media, informasi tentang aktivitasnya di Tiongkok terus berkembang.
Sumber Daya yang Lebih Kaya
Lokasi baru Lieber memberinya akses ke sumber daya yang lebih baik dibandingkan di Amerika Serikat. Di Shenzhen, i-BRAIN memiliki sistem litografi ultraviolet yang diproduksi oleh perusahaan semikonduktor asal Belanda, ASML. Mesin ini digunakan untuk mencetak sirkuit kecil yang penting untuk pengembangan chip canggih.
Selain itu, Lieber juga memiliki akses ke Infrastruktur Ilmu Otak (BSI) Shenzhen, sebuah laboratorium penelitian dengan 2.000 kandang primata dan ruang khusus untuk pekerjaan i-BRAIN. Banyak peneliti percaya bahwa uji coba primata sangat penting dalam pengembangan teknologi antarmuka otak-komputer yang invasif.
Kekhawatiran atas Keamanan Teknologi
Beberapa analis khawatir bahwa kemampuan Lieber untuk membangun kembali laboratoriumnya setelah dihukum menunjukkan kerentanan dalam pengamanan teknologi AS. Mereka mengkhawatirkan bagaimana teknologi yang dikembangkan di AS bisa dimanfaatkan oleh negara lain, terutama dalam konteks strategi fusi militer-sipil Beijing.
Glenn Gerstell, mantan penasihat umum Badan Keamanan Nasional AS, mengatakan bahwa Tiongkok telah mempersenjatai keterbukaan dan inovasi kita sendiri melawan kita. Menurutnya, mereka membalikkan keadaan dan memanfaatkannya untuk keuntungan sendiri.
Pengembangan Teknologi di Tiongkok
Tiongkok telah menetapkan teknologi antarmuka otak-komputer sebagai prioritas nasional dalam rencana lima tahun barunya. Selain itu, lembaga-lembaga penelitian seperti SMART dan Shenzhen Bay Laboratory terus berkembang, dengan anggaran yang signifikan dan dukungan pemerintah.
Meskipun masih dalam masa pembebasan bersyarat, Lieber telah mendapatkan izin untuk beberapa perjalanan ke Tiongkok, termasuk untuk pekerjaan ilmiah. Pengacaranya mengatakan bahwa ia menderita limfoma dan hanya keluar untuk janji temu medis atau jalan-jalan singkat.
Dalam kariernya selama 30 tahun di Harvard, Lieber menghabiskan banyak waktu di laboratorium dan memiliki kebiasaan unik seperti berlatih gulat dan menanam labu raksasa di halaman belakang. Ia juga pernah mengaku ingin memenangkan Hadiah Nobel dan diakui atas karyanya.
Kasus Lieber menjadi contoh dari kegagalan kebijakan AS dalam menghadapi ancaman keamanan teknologi. Menurut analis, alat hukum AS tidak cukup efektif dalam mencegah ilmuwan terkemuka beralih ke negara lain.
Posting Komentar