Apakah Batas Kloning Hewan Mamalia?

Sejarah Pengklonan Tikus yang Mengubah Pandangan Ilmuwan
Dua puluh tahun yang lalu, Teruhiko Wakayama dari Advanced Biotechnology Center di Universitas Yamanashi, Jepang, dan timnya berhasil melakukan kloning pada seekor tikus betina. Setelah itu, mereka terus mengklonasi tikus tersebut hingga mencapai 58 generasi berturut-turut. Proses ini berlangsung tanpa henti selama beberapa dekade, hingga akhirnya tidak dapat dilanjutkan lagi.
Pada generasi ke-58, bayi tikus hasil kloning mati sehari setelah lahir. Penelitian ini dipublikasikan dalam jurnal Nature Communications pada 24 Maret 2026. Hasil penelitian menunjukkan bahwa masalah mulai muncul pada generasi ke-27, ketika tingkat keberhasilan pengklonan mulai menurun. Meskipun fisik dan usia tikus hasil kloning tampak normal, dugaan mutasi DNA yang terakumulasi dari generasi ke generasi menjadi penyebab utamanya.
Penelitian ini dilakukan oleh tim gabungan dari Universitas Yamanashi, Universitas Azabu di Kanagawa, dan Yayasan Riset Efek Radiasi di Hiroshima. Mereka menemukan bahwa pada generasi ke-27, perkawinan antara tikus hasil kloning dengan tikus asli bisa terjadi, namun embrio yang tumbuh mulai mengalami degenerasi.
Perbedaan Klon Alami dan Buatan
Secara alami, ada beberapa spesies seperti hydra di perairan tawar dan terumbu karang yang dapat mengklon diri secara berkala. Namun, hewan mamalia memiliki cara reproduksi yang berbeda karena sangat bergantung pada proses reproduksi seksual. Dengan demikian, teknologi kloning pada mamalia masih membutuhkan pemahaman yang lebih dalam untuk memastikan kelangsungan hidup spesies.
Selama 20 tahun terakhir, Wakayama dan timnya melakukan eksperimen terhadap 1200 tikus hasil kloning. Awalnya, hasilnya menjanjikan, tetapi semakin lama, mereka mulai meragukan potensi teknologi ini. Masalah utama pada klon mamalia diduga berasal dari kegagalan dalam 're-programming' inti sel donor agar dapat 'reset' kondisi epigenetik dari sel-sel somatik menjadi embrio hasil pembuahan.
"Isu ini muncul secara tidak langsung karena kelainan DNA. Tapi, detailnya seperti apa masih belum jelas," tulis laporan penelitian yang dikutip dari Popular Mechanics pada 2 April 2026.
Efek Mutasi Bertumpuk
Kelainan genetik tidak hanya muncul pada tikus, tetapi juga pada tanaman dan vertebrata nonmamalia yang mengalami proses kloning. Contohnya adalah partenogenesis, di mana hewan hasil kloning tidak melalui proses reproduksi seksual. Namun, pada mamalia, efek mutasi yang terakumulasi mulai terlihat setelah generasi ke-27.
Awalnya, analisis DNA dari tikus kloning tidak menunjukkan perbedaan antar generasi. Namun, setelah generasi ke-27, kelainan genetik mulai memberi dampak negatif pada fertilitas. Pada generasi ke-58, tikus hasil kloning mati sehari setelah lahir.
Beberapa teori menyebutkan bahwa Trichostatin A (TSA), yang berperan dalam memperkuat proses nuklir untuk pemrograman ulang sel, mungkin kehilangan efektivitasnya seiring generasi. Namun, analisis menunjukkan bahwa TSA tetap efektif. Kelainan epigenetik juga menjadi dugaan lain, tetapi sampai saat ini, tidak ditemukan kelainan yang signifikan.
Tantangan Teknologi Kloning Mamalia
Setelah mengurutkan genom tikus hasil kloning dari berbagai generasi, para peneliti menemukan adanya mutasi yang terakumulasi. Pada generasi akhir, jumlah mutasi latar belakang cukup besar hingga membuat kloning tidak lagi mungkin dilanjutkan.
"Sejak kelahiran domba Dolly, teknologi kloning telah menjanjikan banyak aplikasi," kata tim peneliti. "Namun, temuan ini menunjukkan bahwa aplikasi praktis dari pengklonaan mamalia membutuhkan pemahaman yang lebih dalam tentang batas-batas biologis ini, memastikan riset lebih jauh, dan menegaskan ulang keniscayaan evolusioner bahwa reproduksi seksual sangat dibutuhkan untuk survival spesies-spesies mamalia jangka panjang."
Posting Komentar