Wamenkomdigi Khawatir Ancaman Asing di AI Indonesia, Ajak Akademisi Kembangkan SLM Lokal

Soldiradem blog,JAKARTA — Kementerian Komunikasi dan Informatika (Komdigi) mendorong para ilmuwan dan pengembang teknologi di dalam negeri untuk memanfaatkan kesempatan pengembangan modelkecerdasan buatan (AI)sendiri. Model AI yang dimaksud adalah Small Language Model (SLM).
Wakil Menteri Komunikasi dan Digital Nezar Patria menyatakan bahwa meluasnya kekuasaan Model Bahasa Besar (LLM) dari luar negeri dapat membawa risiko terhadap hasil yang memiliki bias budaya serta kurangnya kedaulatan digital di Indonesia.
"AI memiliki preferensi dan nilai budaya yang diambil dari lingkungannya, sehingga LLM yang dibentuk mencerminkan pengetahuan yang relevan dengan budayanya. Ketika digunakan di tempat lain, tidak sesuai dan penuh bias," kata Nezar dilansir dari Press Release Komdigi, Rabu (17/12/2025).
Nezar mengungkapkan, di tengah persaingan industri global yang menghasilkan platform LLM yang mampu melakukan berbagai tugas, terdapat celah strategis dalam pengembangan SLM.
Berbeda dengan LLM yang bersifat umum, SLM dilatih menggunakan data khusus sehingga menunjukkan akurasi yang lebih tinggi dalam menjawab pertanyaan di bidang tertentu.
"SLM berbeda dari LLM, karena SLM dilatih menggunakan data khusus dan lebih tepat dalam menjawab pertanyaan di bidang tertentu," ujar Nezar.
Selanjutnya, mantan jurnalis dan anggota Dewan Pers tersebut memberikan contoh mengenai efisiensi yang ditawarkan oleh SLM. Ia menyebutkan bahwa platform AI SLM yang dilatih khusus dengan data kebijakan publik akan mempermudah pengguna, baik pemerintah maupun masyarakat, dalam menganalisis isu-isu kebijakan.
Keunggulan teknis lainnya adalah kemudahan penggunaan. Pengguna tidak perlu lagi memikirkan teknik penulisan instruksi yang rumit atau engineering prompt untuk mendapatkan data yang sesuai, karena model tersebut sudah mengerti konteks khususnya.
Untuk mengatasi isu bias budaya yang sebelumnya disebutkan, Nezar memperkenalkan konsep Sovereign AI atau kekuasaan AI. Ia berpendapat bahwa Indonesia perlu memiliki platform sendiri yang dibangun berdasarkan nilai-nilai budaya bangsa, seperti Pancasila.
"Untuk mencapai AI yang mandiri diperlukan dasar nilai dan norma dasar, misalnya kita memiliki Pancasila, menurut saya ini sangat menarik untuk dikembangkan lebih lanjut," katanya.
Nezar berharap penelitian-penelitian mengenai AI yang dilakukan oleh para akademisi tidak hanya terbatas pada lingkungan kampus. Ia mendorong agar hasil penelitian tersebut memberikan dampak nyata bagi masyarakat serta bermanfaat dalam mewujudkan pengelolaan teknologi AI dan transformasi digital yang adil.(Muhammad Diva Farel Ramadhan)
Posting Komentar