5 Hewan Penting dalam Penelitian Luar Angkasa

Table of Contents

Membicarakan penelitian luar angkasa, kebanyakan orang mungkin langsung membayangkan astronot dengan pakaian antariksa yang canggih dan teknologi mutakhir. Namun, jauh sebelum manusia mengarungi ruang angkasa, berbagai hewan telah lebih dulu dikirim untuk menguji kondisi ekstrem di luar Bumi. Mereka memainkan peran penting dalam memahami bagaimana tubuh makhluk hidup bekerja ketika menghadapi gravitasi rendah, radiasi tinggi, serta tekanan psikologis selama perjalanan luar angkasa. Mengenai penelitian luar angkasa, kebanyakan orang mungkin secara langsung membayangkan astronot yang menggunakan pakaian antariksa modern dan alat teknologi canggih. Namun, sebelum manusia mulai menjelajahi kosmos, berbagai jenis hewan sudah lebih dahulu ditempatkan untuk menguji situasi ekstrem di luar Bumi. Mereka memiliki peran krusial dalam membantu memahami cara tubuh makhluk hidup beradaptasi terhadap gravitasi yang rendah, paparan radiasi tinggi, serta tekanan psikologis saat melakukan perjalanan antariksa. Bicara tentang penelitian ruang angkasa, kebanyakan orang mungkin langsung membayangkan astronot dengan pakaian luar angkasa yang canggih dan teknologi mutakhir. Namun, jauh sebelum manusia melangkah ke luar angkasa, berbagai hewan telah lebih dulu diuji untuk mengevaluasi kondisi ekstrem di luar Bumi. Mereka memainkan peran penting dalam membantu memahami bagaimana tubuh makhluk hidup berfungsi ketika menghadapi gravitasi rendah, paparan radiasi tinggi, serta tekanan psikologis selama perjalanan antariksa.

Meskipun terdengar rumit dan kompleks, kontribusi hewan-hewan ini sangat besar dalam membuka jalan bagi eksplorasi ruang angkasa modern. Mulai dari serangga kecil hingga mamalia, masing-masing memiliki peran penting dalam mengungkap rahasia luar angkasa dan menjaga keselamatan astronot manusia. Mari kita lihat lima hewan yang memiliki peran penting dalam sejarah penelitian antariksa serta alasan mengapa kehadiran mereka begitu vital!

1. Lalat Buah, serangga pertama yang dikirim ke luar angkasa

Terdapat alasan khusus mengapa lalat buah dipilih sebagai objek penelitian luar angkasa. Dilaporkan di halamanTimes of India,Dalam misi Gaganyaan, diketahui bahwa lalat memiliki kesamaan gen dengan manusia sekitar 77%. Selain itu, lalat buah memiliki siklus hidup yang cepat serta perubahan biologinya mudah diamati. Dalam penelitian ini, tujuannya adalah untuk memahami bagaimana batu ginjal terbentuk di luar angkasa, yang merupakan salah satu risiko kesehatan terbesar bagi para astronot. Dengan mengamati respons lalat buah dalam kondisi mikrogravitasi, para ilmuwan dapat menemukan mekanisme pembentukan batu ginjal dan mengembangkan tindakan pencegahan untuk astronot dalam misi jangka panjang. Hasil penelitian ini juga berpotensi memberikan manfaat medis bagi manusia di Bumi.

2. Laika, pahlawan luar angkasa dari Uni Soviet

Kisah anjing Laika menjadi bagian dari sisi gelap dalam persaingan tersebut.antariksapada masa Perang Dingin, ketika ambisi politik dan ilmu pengetahuan mengungguli rasa kemanusiaan terhadap sesama makhluk hidup. Laika dipilih bukan karena keahliannya, melainkan hanya seekor anjing liar yang dianggap kuat. Dilansir dari situsSmithsonian magazine, Pada tahun 1957, anjing kecil ini melakukan perjalanan melalui orbit dengan persediaan makanan sebanyak satu porsi dan hanya memiliki pasokan oksigen yang cukup untuk terbang dengan roket menuju orbit Bumi, yaitu ketinggian 2.000 mil di atmosfer. Cerita ini sangat menyedihkan, karena anjing campuran husky-spitz ini menjadi bagian dari sejarah sebagai hewan pertama yang mengorbit Bumi. Saat Sputnik 2 diluncurkan, terjadi kejadian tak terduga di mana tahap akhir roket tetap menempel hingga akhirnya Laika menjadi korban dari eksperimen yang tragis dalam sejarah penjelajahan luar angkasa.

3. Kura-kura, sumber inspirasi penelitian gravitasi nol

Katak telah melakukan perjalanan ke luar angkasa menggunakan roket dari Amerika Serikat dan Rusia sejak lama, dimulai sejak tahun 1950-an. Tujuan eksperimen ini adalah untuk mengetahui bagaimana sistem telinga dalam katak yang rentan terhadap gravitasi dan gerakan berubah ketika berada di lingkungan mikrogravitasi. Ruang angkasa memiliki kondisi yang dapat menyebabkan mabuk ruang pada manusia dan mengganggu keseimbangan tubuh. Katak dipilih karena memiliki struktur telinga dalam yang mirip dengan manusia. Eksperimen ini.Orbiting Frog Otolith menjadi salah satu contoh ekstrem bagaimana ilmu pengetahuan pada masa itu berusaha memperoleh pengetahuan dengan metode yang kini mungkin dianggap tidak bermoral, termasuk penggunaan prosedur yang merusak dan misi tanpa rencana kembalinya para peserta.

4. Tentara mikroba luar angkasa yang tak terduga, cumi-cumi

Dilansir laman University of Hawaii, Eksperimen yang melibatkan pengiriman lebih dari 120 bayi cumi-cumi Hawaiian bobtail yang lahir dari induk yang dikumpulkan di Teluk Maunalua ke Stasiun Luar Angkasa Internasional. Tujuan dari eksperimen ini adalah untuk mengetahui bagaimana kesehatan astronot terpengaruh selama misi luar angkasa berdurasi panjang. Selain itu, juga bertujuan untuk mengamati dampak perjalanan luar angkasa terhadap cumi-cumi. Eksperimen ini dilaksanakan dalam kerangka proyek UMAMI (Understanding of Microgravity on Animal-Microbe Interactions). Misi UMAMI adalah untuk memahami lebih dalam efek mikrogravitasi atau perjalanan luar angkasa terhadap interaksi positif antara hewan dan mikroba.

5. Tardigrade, hewan mikroskopis yang mampu bertahan di lingkungan luar angkasa

Hewan kecil ini mampu bertahan hidup di luar angkasa serta menghadapi radiasi berbahaya. Dilaporkan di halamanSpace, Tardigrade adalah hewan mikroskopis yang menyerupai beruang gummy dengan delapan kaki. Tardigrade memiliki ribuan gen yang aktif ketika terpapar radiasi ekstrem. Aktivasi sebanyak 2.801 gen ini menunjukkan bahwa tardigrade mampu memiliki mekanisme perlindungan DNA yang sangat rumit. Temuan ini juga berkontribusi dalam pengembangan teknologi perlindungan radiasi, termasuk untuk keperluan kesehatan seperti penelitian kanker dan keselamatan astronot dalam misi luar angkasa jangka panjang.

Tidak hanya manusia yang memainkan peran penting dalam penelitian luar angkasa, tetapi juga partisipasihewanyang juga merupakan makhluk hidup berkontribusi besar dalam inovasi dan pengembangan ilmu pengetahuan serta teknologi. Mereka juga menunjukkan bahwa dorongan untuk mengeksplorasi luar angkasa bisa berasal dari mana saja, bahkan dari makhluk paling kecil di Bumi.

Sangat Menakjubkan, 8 Hewan Ini Pernah Berada di Luar Angkasa! Akibat Tidak Ada Gravitasi, Ini 7 Perubahan Tubuh yang Terjadi pada Astronot

Posting Komentar