Banjir Sumatera Dikawasi Drone, Wilayah Mana Paling Parah?

Table of Contents

Pusat Remote Sensing Institut Teknologi Bandung (ITB) dan kelompok penerbangandrone Sky Volunteer ikut serta memetakan penyebaran lokasi yang terkena dampakbanjir di Sumatera. Septian Firmansyah, anggota programSky Volunteeryang kali ini berjudul 'Fly for Humanity’menyatakan timnya menggabungkan data dari berbagai satelit, serta sistemmachine learning.

"Pemetaan masih berlangsung karena luasnya daerah yang terkena dampak," kata Septian kepadaTempo, pada Sabtu, 13 Desember 2025.

Secara umum, hasil pemetaan drone mengenali penyebaran lokasi jembatan yang masih dapat dilewati, maupun yang terputus. Pemantauan udara juga bertujuan untuk mengidentifikasi tempat pengungsi dan pos pendukung. Tim Pusat Penginderaan Jauh ITB, dalam kegiatan ini, menggabungkan data satelit multispektral Sentinel 2, satelit radar Sentinel 1, modelmachine learning, serta pendekatan perbaikan topografi.

Lokasi banjir yang teramati di Acehdrone Sampai saat ini, Septian melanjutkan, wilayah penyebaran mencakup Aceh Besar, Pidie, Pidie Jaya, Lhoksemauwe, Bener Meriah, Aceh Timur, Langsa, Aceh Barat, Aceh Tenggara, Aceh Selatan, hingga Aceh Singkil. Di Sumatra Utara, daerah pengamatan meliputi Langkat, Medan, Deli Serdang, Serdangbedagai, Humbang Hasudutan, serta Pakpak Bharat, Sibolga, Padang Sidempuan, dan Mandailing Natal. Sementara di Sumatra Barat, wilayahnya dimulai dari Padang, Solok, Pariaman, Padang Pariaman, Tanahdatar, Bukittinggi, Limapuluh Kota, Agam, hingga Pasaman Barat.

Berdasarkan data dari Pusat Penginderaan Jauh ITB, area banjir terbesar di Sumatera Utara berada di Langkat, mencapai lebih dari 33 ribu hektare. Di Sumatera Barat, luas banjir terbesar tercatat di Pasaman Barat, sekitar 9,5 hektare.

Hasil analisis terhadap daerah aliran sungai (DAS) menunjukkan bahwa area dengan luas banjir terbesar adalah Krueng Lueng di Aceh, mencapai 31,8 ribu hektare. Wilayah DAS yang paling besar terkena dampak banjir adalah DAS Tamiang seluas 22,4 ribu hektare, diikuti oleh DAS Singkil sebesar 20,3 ribu hektare.

Berdasarkan hasil pemetaan wilayah yang melibatkan pihak pemerintah, organisasi swadaya, serta masyarakat setempat, akan disebarkan dan dimanfaatkan oleh Badan Nasional Penanggulangan Bencana (BNPB). Pemetaan terbaru fokus pada daerah yang masih terpencil. "Pemetaan ini ditujukan pada wilayah yang terkena dampak banjir dan tanah longsor guna menghadapi ancaman berikutnya," katanya.

Posting Komentar