Krisis utang nasional Amerika Serikat berisiko merusak perekonomian global

Ekonomi Amerika Serikat dikhawatirkan akan mengalami stagnasi tahun depan sementara secara bersamaan menunjukkan ketidakseimbangan yang parah. Meskipun ada momentum pertumbuhan di pusat data dan booming kecerdasan buatan (AI), sektor lainnya memiliki sedikit momentum. Hal ini mengurangi permintaan tenaga kerja secara keseluruhan, dan tingkat pengangguran kemungkinan akan meningkat lebih lanjut pada 2026.
Fredrik Erixon, direktur European Centre for International Political Economy (ECIPE), sebuah think tank ekonomi Eropa terkemuka, baru-baru ini mengatakan kepada surat kabar ini dalam wawancara bahwa kebijakan ekonomi pemerintahan Trump periode kedua pada akhirnya menyebabkan defisit fiskal yang tinggi dan inflasi, justru membuat diri mereka sendiri terjebak.
Berikut adalah Q&A dengan Fredrik Erixon:
-Mengapa inflasi Amerika Serikat tidak mereda?
Karena kebijakan ekspansi fiskal pemerintah Amerika Serikat. Defisit fiskal yang besar, setara dengan 7% dari PDB, meningkatkan biaya di seluruh perekonomian.
-Bagaimana Anda melihat arah suku bunga acuan AS tahun depan?
Tekanan untuk menurunkan suku bunga akan terus berlanjut, tetapi sikap hawkish di dalam Federal Reserve juga akan memperkuat. Selama pemerintah mengalami defisit yang besar, inflasi tidak akan turun, dan bahkan tokoh-tokoh pro-Trump di Fed akan kesulitan membenarkan penurunan suku bunga kecuali aktivitas ekonomi melonjak turun.
-Apakah kemacetan lapangan kerja Amerika Serikat akan terus berlanjut tahun depan?
Selain sektor investasi kecerdasan buatan, industri lain sedang mengalami kemunduran. Permintaan tenaga kerja secara keseluruhan menurun. Ekonomi Amerika Serikat tidak sehat. Tingkat pengangguran akan memburuk.
-Bagaimana pemerintahan Trump akan merespons?
Saya tidak melihat agenda lain selain memaksa Fed untuk menurunkan suku bunga. Pemerintahan Trump semakin terjebak oleh populismenya sendiri dan berusaha menutupi dampak sampingannya. Mengingat pemilu tengah tahun akan segera tiba pada November, akan ada sedikit ruang untuk pengendalian pengeluaran atau reformasi kesejahteraan.
-Berapa serius krisis utang nasional?
Itu sangat mengkhawatirkan. Kita telah memasuki periode di mana krisis utang nasional bisa muncul dan merobek perekonomian global. Risiko terbesar adalah masalah utang Amerika Serikat. Langkah politik untuk menghilangkan kemandirian Fed berisiko menghilangkan lembaga yang dapat menyelesaikan krisis ketika terjadi.
-Bagaimana hubungan AS-China akan berkembang tahun depan?
Kedua belah pihak terjebak dalam tarian proteksionis, dan ketidakstabilan kebijakan perdagangan antara keduanya akan terus berlangsung. Intensitas proteksionisme mungkin bervariasi, tetapi tidak ada satu pun pihak yang tampaknya berniat menggeser situasi yang terpaku ini menuju sesuatu yang lebih konstruktif.
-Apa strategi kelangsungan hidup Korea Selatan di tengah ketegangan AS-Tiongkok?
Harus fokus pada penguatan 'kemandirian diri' dan mempromosikan dinamika ekonomi serta inovasi. Ekonomi yang kuat akan menarik lebih banyak investasi dan memberikan sesuatu yang ingin dimiliki Korea, yang juga diinginkan oleh Amerika Serikat dan Tiongkok.
-Apa pandangan Anda tentang perekonomian global tahun depan?
Kinerjanya akan lebih baik daripada AS. Sementara ekonomi global sedang tertekan, ekonomi ini terus memperbaiki strukturnya menuju perdagangan yang didorong oleh layanan dan teknologi.
-Ada ekspektasi bahwa sektor AI akan meningkatkan produktivitas.
Memiliki potensi tetapi terbatas pada sektor tertentu. Saya skeptis terhadap analisis yang memproyeksikan angka produktivitas di masa depan. Sebaliknya, saya lebih fokus pada bentuk-bentuk organisasi dan layanan baru yang akan muncul dalam 20 tahun mendatang seiring modernisasi teknologi.
-Perbaikan struktural apa yang dibutuhkan Korea Selatan?
Harus menyeimbangkan sektor perdagangannya. Terlalu bergantung pada beberapa bidang.
-Bagaimana dengan respons terhadap populasi yang menua?
Tidak ada negara yang berhasil meningkatkan tingkat kelahiran. Menstabilkan sistem pensiun dan mempersiapkan struktur aset untuk populasi yang secara drastis berkurang sangat penting.
☞Fredrik Erixon, Direktur
Fredrik Erixon mendirikan European Centre for International Political Economy (ECIPE), sebuah think tank berbasis di Brussels, pada tahun 2006. Seorang warga Swedia, ia lulus dari Universitas Uppsala dan memperoleh gelar master dalam ekonomi dari London School of Economics. Ia bekerja sebagai analis makroekonomi di JPMorgan, bekerja di Bank Dunia, dan memberikan saran mengenai kebijakan ekonomi bagi pemerintah Swedia dan Inggris. Ia juga dinobatkan sebagai salah satu "30 Orang Paling Berpengaruh di Brussels" oleh Financial Times (FT).
Posting Komentar