Mahasiswa Polman Bandung Ciptakan Insinerator untuk Warga Desa

Tim mahasiswa Politeknik Manufaktur Bandung mengembangkan alat pengolahan sampah organik kering (insinerator) yang diklaim ramah lingkungan. Pembakaran selama satu jam mampu mengubah 10 kilogram sampah menjadi abu yang dapat dimanfaatkan sebagai bahan campuran dalam pembuatan batako danpaving block"Alat ini dibuat untuk menurunkan kadar karbon yang terbuang dari proses pembakaran," ujar Frury Athar Utama, anggota tim mahasiswa.Polman Bandung itu, kepada Tempo, Jumat 12 Desember 2025.
Insinerator ini dirancang oleh tim yang terdiri dari delapan mahasiswa angkatan 2022 dan telah mendapatkan persetujuan dari dosen pembimbing. Struktur utama insinerator menggunakan plat baja yang dilapisi bahan tahan panas untuk memastikan proses pembakaran berjalan optimal, yaitu pada suhu 700-800 derajat Celsius. Komponen-komponen insinerator dibuat di kampus selama tiga bulan dengan biaya sebesar Rp 70 juta.
Alat dengan panjang 3 meter, lebar 2 meter, dan berat sekitar 1 ton dibawa ke Desa Lamajang, tempat pelaksanaan kuliah kerja nyata (KKN) di Pangalengan, Kabupaten Bandung, pada tanggal 27 Oktober hingga 7 November 2025 lalu. “Karena insinerator di Desa Lamajang rusak sehingga pembakaran sampah dilakukan tanpa alat,” kata Frury.
Frury menyatakan, insinerator yang dibuat oleh Polman Bandung seharusnya hanya menerima sampah organik dalam keadaan kering, termasuk limbah dapur rumah tangga. "Sampah kering lebih stabil dalam menjaga kualitas api pembakaran dibandingkan sampah basah," ujarnya. Sementara itu, sampah plastik dilarang dimasukkan ke dalam tungku karena insinerator bertujuan menghasilkan abu sisa pembakaran.
Mekanisme penggunaan alat insinerator dimulai dengan memasukkan limbah ke dalam ruang pembakaran. Asap yang dihasilkan dari proses pembakaran tersebut selanjutnya disaring olehcycloneyang berfungsi sebagai sistem pemisah partikel padat. Dengan bantuan gravitasi atau gaya tarik bumi, debu yang lebih berat akan terpisah dari asap.
Selanjutnya asap disaring oleh wet scrubberyang menggunakan campuran cairan kimia yang berbasis Kalsium Hidroksida atau Ca(OH)2. Fungsinya adalah mengurangi kandungan polutan, terutama karbon dan senyawa beracun lainnya dalam gas buang, seperti gas asam. Selanjutnya juga digunakan asam sulfat (H2SO4) untuk menetralkan gas basa.
"Mekanisme ini membuat mesin insinerator lebih ramah lingkungan dan sesuai dengan standar pengendalian udara," ujar Frury yang menambahkan bahwa asap yang dilepaskan ke udara telah mengurangi kadar emisi karbonnya.
Insinerator memiliki kapasitas 100 kilogram per hari dengan sistem kerja selama 8 jam sehari. Mesin tersebut membutuhkan daya listrik sebesar 800 watt untuk mengoperasikan sensor dan pompa yang terintegrasi dalam sistem kontrol. Sementara itu, pembakaran sampah di tungku menggunakan minyak bekas.
"Dalam satu siklus pembakaran diperlukan dua liter minyak bekas," ujar Frury. Minyak bekas, menurutnya, mudah didapatkan di bengkel kendaraan seperti mobil secara gratis atau dengan biaya Rp 10 ribu per dua liter.
Untuk perawatannya, pengguna harus mengeluarkan abu hasil pembakaran dari insinerator. Selanjutnya mengganti cairan kimia yang ada padawet scrubberseminggu sekali, dan pembersihan seminggu dua kali di area ruang bakar.
Posting Komentar