Tokyo Dapat Pujian dari WEF Atas Keberhasilan Atasi Penurunan Tanah

Table of Contents
Tokyo Dapat Pujian dari WEF Atas Keberhasilan Atasi Penurunan Tanah

LAPORAN Forum Ekonomi Dunia (WEF) yang diterbitkan pada November 2025 menyoroti keberhasilanKota Tokyo dalam mengatasi penurunan tanahyang pernah menjadi ancaman serius terhadap kelangsungan kota. Tokyo dianggap sebagai salah satu contoh awal kota besar di dunia yang berhasil mengatasi penurunan permukaan tanah dengan kebijakan lintas sektor yang terkoordinasi.

Masalah penyusutan tanah di Tokyo muncul seiring dengan pesatnya industrialisasi dan perkembangan kota pada abad ke-20, terutama akibat penggunaan air tanah yang berlebihan dan tidak terkontrol. Pada tahun 1968, permukaan tanah di beberapa area tercatat turun hingga 24 sentimeter per tahun. Kondisi ini semakin memburuk karena kejadian cuaca ekstrem yang menyebabkan banjir besar dan mengungkap kelemahan infrastruktur kota saat itu.

Merespons risiko tersebut, pemerintah nasional Jepang bekerja sama dengan Pemerintah Metropolitan Tokyo menerapkan sejumlah strategi yang menggabungkan perubahan regulasi, investasi dalam infrastruktur, serta pendekatan berbasis lingkungan. "Pendekatan ini secara signifikan mengurangi tingkat penurunan tanah seiring berjalannya waktu dan menjadikan Tokyo sebagai contoh ketahanan perkotaan terhadap penurunan tanah," demikian tulis laporan WEF, dikutip pada Sabtu, 13 Desember 2025.

Salah satu langkah penting yang dilakukan adalah dengan penerapan pembatasan ketat terhadap penggunaan air tanah melalui peraturan nasional seperti Industrial Water Law (1956) dan Building Water Law (1962), yang menetapkan batasan ketat dalam penggunaan air tanah serta pembangunan sumur, diiringi dengan pengembangan sumber air permukaan dan perluasan jaringan pengolahan serta distribusi air.

Di sisi lain, Tokyo juga melakukan investasi dalam sistem drainase besar untuk mengurangi ancaman banjir seperti Metropolitan Area Outer Underground Discharge Channel yang mampu menghindari kerugian banjir lebih dari 150 miliar yen sejak tahun 2006. Kinerja sistem ini terlihat saat Topan Hagibis pada 2019, meskipun sistem tersebut tidak secara langsung mencegah penyusutan tanah.

Selain infrastruktur teknis, Tokyo mendorong penerapan solusi yang berbasis alam, seperti kewajiban adanya ruang hijau pada bangunan baru maupun yang direnovasi, serta perlindungan area hijau di dalam kota. “Hingga tahun 2024, lebih dari 5.700 bangunan baik baru maupun lama telah memiliki sekitar 180 hektar ruang hijau di atap,” tulis WEF. Inisiatif ini didukung oleh penggunaan teknologi dan data, termasuk pemantauan penurunan tanah melalui satelit dan sistem pengamatan bawah tanah untuk mendukung perencanaan jangka panjang.

WEF menganggap transformasi Tokyo sebagai bukti bahwa krisis penurunan tanah bisa diatasi dengan pendekatan yang terpadu. "Perjalanan Tokyo dari krisis menuju kestabilan menunjukkan betapa efektifnya solusi yang terintegrasi," demikian tulis laporan tersebut.

Secara jangka panjang, kebijakan tersebut memberikan hasil yang nyata. "Dalam beberapa dekade, tindakan yang dilakukan kota ini berhasil mengurangi tingkat penurunan tanah, dengan beberapa data menunjukkan perlambatan hingga sekitar 1 sentimeter per tahun."

Posting Komentar