WEF: Pengambilan Air Picu Penurunan Tanah

PENURUNAN tanah atau land subsidencemenjadi isu penting yang dihadapi banyak kota di seluruh dunia. Peristiwa ini terjadi ketika permukaan tanah mengalami penurunan secara perlahan atau mendadak akibat gabungan proses alami geologi dan kegiatan manusia. Laporan terbaru World Economic Forum (WEF) menunjukkan bahwa faktor yang disebabkan oleh manusia kini menjadi penyebab utama penurunan permukaan tanah di berbagai daerah.
Dalam beberapa kasus yang sangat parah, wilayah tertentu di kota mengalami pengurangan tanah 10 hingga 20 kali lebih cepat dibandingkan kenaikan permukaan laut. Keadaan ini tercatat di kota-kota sepertiSemarang dan JakartaDi sepanjang pantai utara Jakarta, tingkat penurunan tanah dilaporkan mencapai hingga 280 milimeter setiap tahun. Di sisi lain, Semarang mengalami penurunan sekitar 60–120 milimeter per tahun.
Mengapa Kota Mengalami Penurunan Permukaan Tanah
Eksploitasi air tanah yang berlebihan menjadi penyebab utama penurunan permukaan tanah di wilayah perkotaan. Secara global, sekitar 55 persen dari kasus penurunan tanah terkait langsung dengan pengambilan air tanah untuk keperluan rumah tangga, industri, dan pertanian. "Pengambilan berlebihan menyebabkan kompresi sistem akuifer, oksidasi tanah gambut, penyusutan tanah yang tidak merata, serta dalam beberapa situasi dapat memicu terbentuknya lubang ambles (sinkhole)," demikian laporan tersebut menyebutkan, seperti dikutip pada Sabtu, 13 Desember 2025.
Penelitian terbaru juga menemukan bahwa sekitar 77 persen daerah rentan terhadap penurunan tanah dipengaruhi oleh tindakan manusia. Dari angka tersebut, sekitar 60 persen kejadian secara langsung disebabkan oleh pengambilan air tanah. Keadaan ini terjadi ketika akuifer habis diambil melebihi kemampuan pemulihannya, sehingga mengakibatkan penyusutan tanah yang bersifat tetap.
Urbanisasi merupakan faktor penting lainnya yang mempercepat penurunan tanah. "Secara global, diperkirakan sekitar 12 persen pemadatan tanah disebabkan oleh urbanisasi," demikian laporan tersebut menyatakan, merujuk pada tekanan dari bangunan, reklamasi wilayah, serta perkembangan area permukiman di atas tanah yang rentan secara geologis.
Selain urbanisasi dan penggunaan air tanah, faktor tektonik berkontribusi sekitar 9 persen terhadap penurunan permukaan bumi secara global. Di sisi lain, pemadatan alami tanah akibat proses geologis menyumbang sekitar 8 persen, yang terjadi melalui proses pengendapan dan pemampatan sedimen secara bertahap.
Kegiatan pertambangan, menurut laporan tersebut, berkontribusi sekitar 6 persen terhadap penyusutan tanah, sedangkan pengambilan panas bumi menyumbang sekitar 5 persen. Eksploitasi minyak dan gas bumi juga tercatat berkontribusi sekitar 4 persen, akibat penurunan tekanan dalam reservoir bawah tanah yang menyebabkan penyusutan lapisan batuan di sekitarnya.
Perubahan iklim memperburuk ancaman penurunan tanah akibat kekeringan parah, gelombang panas, dan cuaca ekstrem. "Ini terjadi karena menurunnya curah hujan yang mengisi kembali air tanah, penggunaan air berlebihan untuk mengatasi kekurangan pasokan, serta erosi tanah akibat gangguan iklim," demikian laporan tersebut menyebutkan.
Posting Komentar