5 Fakta Menarik tentang Gunung yang Terancam Kepunahan
Spesies Mamalia Bertanduk yang Menarik Perhatian
Banyak spesies mamalia bertanduk dapat ditemukan di berbagai belahan dunia. Habitat mereka sangat beragam, mulai dari hutan, savana, kebun, padang rumput, hingga pegunungan. Salah satu contoh spesies tersebut adalah Tragelaphus buxtoni atau yang lebih dikenal sebagai nyala gunung. Hewan ini tinggal di daerah pegunungan dan memiliki kemampuan luar biasa dalam memanjat bebatuan. Ukurannya cukup besar, dengan tanduk yang menjulang tinggi.
Sayangnya, populasi nyala gunung terus menurun dan kini dianggap sebagai hewan yang terancam punah. Karena sifatnya yang penakut, nyala gunung jarang terlihat oleh manusia. Oleh karena itu, banyak orang tidak tahu tentang keberadaan, kehidupan, dan kebiasaan hewan ini. Padahal, nyala gunung merupakan hewan eksotis yang menarik untuk dipelajari. Berikut adalah beberapa fakta unik mengenai nyala gunung:
Punya Dimorfisme Seksual yang Mencolok

Dimorfisme seksual merujuk pada perbedaan penampilan antara individu jantan dan betina. Seperti mamalia bertanduk lainnya, nyala gunung juga memiliki dimorfisme seksual yang mencolok. Jantan memiliki tanduk yang besar, panjang, dan menjulang ke atas, sedangkan betina tidak memiliki tanduk. Selain itu, jantan lebih besar dengan panjang sekitar 2,4-2,6 meter dan bobot antara 180-300 kilogram. Sementara itu, betina memiliki ukuran lebih kecil, yaitu sekitar 1,9-2 meter dengan bobot 150-200 kilogram.
Nyala Gunung Menghindari Manusia

Nyala gunung dikenal sebagai hewan yang sangat pemalu dan sulit ditemui. Ia takut dengan manusia dan akan langsung kabur jika mendeteksi kehadiran manusia. Karena itu, nyala gunung lebih aktif pada malam hari. Pada waktu tersebut, ia berkelana di pinggiran hutan, padang rumput, dan area berkayu. Saat suhu ekstrem, nyala gunung akan bersembunyi di hutan dan area berkayu tertutup agar tidak kepanasan atau kedinginan. Seperti mamalia bertanduk lainnya, nyala gunung hidup dalam kelompok kecil yang terdiri dari 4-3 individu. Mereka saling menjaga dan mencari makan bersama.
Wilayah Jelajahnya Seluas Hingga 20 Kilometer Persegi

Menurut artikel di jurnal Oryx, wilayah jelajah nyala gunung bisa mencapai 15-20 kilometer persegi, terutama pada musim panas. Individu jantan nyala gunung tidak teritorial dan jarang bertarung dengan sesamanya. Mereka memperbolehkan individu jantan lain untuk mencari makan atau beraktivitas di wilayah yang sama. Nyala gunung juga dikenal sebagai hewan yang pendiam dan tidak vokal. Namun, terkadang ia akan mengeluarkan suara rendah saat mendeteksi ancaman dari predator.
Hanya Menghuni Satu Daerah Terpencil

Dulu, nyala gunung dapat ditemukan di berbagai wilayah Ethiopia selatan. Namun, kini penyebarannya sudah menyempit secara drastis. Hewan ini hanya bisa ditemukan di dua daerah, yaitu Pegunungan Arussi dan Bale di Provinsi Oromia, Ethiopia selatan. Area potensial yang bisa dihuni nyala gunung sekitar 5.200 kilometer persegi. Sayangnya, kerusakan habitat dan aktivitas manusia semakin mengurangi luas area yang dapat dihuni. Ketinggian habitatnya sekitar 1.800-4.200 mdpl. Penyempitan area tersebut membuat nyala gunung masuk kategori "terancam" (endangered).
Mulai Kawin pada Usia 2 Tahun

Menurut informasi dari iNaturalist, nyala gunung sudah bisa kawin pada usia 2 tahun. Hewan ini memiliki kebiasaan polygyny, artinya satu jantan bisa kawin dengan banyak betina. Nyala gunung bisa kawin sepanjang tahun, dengan puncak perkawinan terjadi pada bulan Desember. Saat ingin kawin, individu dewasa akan membentuk kelompok. Setelah kawin, nyala gunung akan hamil selama delapan hingga sembilan bulan. Ia merupakan induk yang baik dan akan menjaga anak-anaknya selama dua tahun. Setelah berusia dua tahun dan siap kawin, anakan akan hidup mandiri. Nyala gunung dapat hidup hingga usia 20 tahun.
Itulah beberapa fakta unik mengenai nyala gunung, hewan bertanduk endemik Ethiopia yang populasinya terus terancam. Berbagai upaya konservasi harus dilakukan untuk melindungi eksistensi nyala gunung. Pihak-pihak seperti pemerintah, yayasan konservasi, dan masyarakat perlu bekerja sama untuk memastikan upaya konservasi berjalan efektif.
Posting Komentar