Andi Sukri Syamsuri: Guru Era Digital Butuh Kemanusiaan, Bukan Hanya Paham Teknologi

Peran Guru dalam Era Digital: Kunci Pendidikan Bermutu
Dalam seminar nasional yang digelar secara daring, seorang ahli pendidikan memberikan wawasan penting mengenai peran guru di tengah perkembangan teknologi. Seminar ini bertema “Pendidikan Bermutu untuk Semua: Transformasi Profesionalitas Guru di Era Digital”, dan menjadi bagian dari peringatan Hari Pendidikan Nasional (Hardiknas) 2026.
Kemajuan Teknologi Tidak Menjamin Kualitas Pendidikan
Prof Andi Sukri Syamsuri, Guru Besar Bahasa Bugis, menegaskan bahwa kemajuan teknologi tidak otomatis meningkatkan kualitas pendidikan. Ia menekankan bahwa faktor utama yang menentukan mutu pendidikan tetap berada pada kualitas dan profesionalitas guru.
“Teknologi memang memperluas akses, tetapi kualitas pendidikan tetap ditentukan oleh guru yang mampu memanusiakan, merefleksikan, dan memuliakan peserta didik,” ujarnya.
Nilai Kearifan Lokal sebagai Fondasi Etika Profesi
Dalam paparannya, ia memperkenalkan konsep kearifan lokal Bugis-Makassar yang dikenal dengan prinsip 3S—Sipakatau, Sipakainge, dan Sipakalebbi. Konsep ini menjadi fondasi etika profesi guru di era digital.
- Sipakatau menekankan pentingnya memanusiakan peserta didik dan menghargai martabat setiap individu.
- Sipakainge mendorong budaya saling mengingatkan melalui refleksi dan umpan balik.
- Sipakalebbi membangun lingkungan belajar yang aman, apresiatif, dan berkeadaban.
Ketiga nilai ini dinilai relevan sebagai “kompas moral” bagi guru dalam menghadapi tantangan pendidikan modern.
Tantangan Global dan Kualitas Pendidikan
Andi Sukri juga menyampaikan tantangan global dalam pendidikan, termasuk proyeksi kekurangan jutaan guru di dunia hingga 2030, serta capaian literasi dan numerasi Indonesia yang masih tertinggal dibanding rata-rata negara maju.
Ia menekankan bahwa digitalisasi harus diarahkan untuk memperkuat proses pembelajaran, bukan sekadar penggunaan teknologi semata. Risiko yang muncul adalah teknologi bisa menjadi distraksi atau bahkan menghilangkan relasi manusiawi dalam pendidikan. Oleh karena itu, teknologi harus menjadi penguat nilai, bukan pengganti peran guru.
Model Guru Digital-Humanistik
Dalam konsep yang ditawarkannya, Andi Sukri memperkenalkan model guru digital-humanistik, yakni guru yang mampu mengintegrasikan kompetensi teknologi dengan kekuatan relasi dan nilai kemanusiaan.
Menurutnya, profesionalitas guru tidak hanya diukur dari kemampuan teknis, tetapi juga dari kualitas interaksi, keputusan pedagogik, serta tanggung jawab moral terhadap peserta didik.
Selain itu, ia mendorong guru dan calon guru untuk membangun budaya refleksi, praktik berkelanjutan, serta memanfaatkan teknologi untuk diferensiasi pembelajaran dan penguatan karakter.
Pendidikan Bermutu Berbasis Nilai
Dalam penutupnya, Andi Sukri menegaskan bahwa pendidikan bermutu tidak bisa dilepaskan dari nilai dan budaya. Ia menekankan bahwa guru sejati di era digital bukanlah yang paling cepat menggunakan teknologi, tetapi yang paling bijak memanfaatkannya untuk memanusiakan, mengingatkan, dan memuliakan.
Seminar ini menjadi bagian dari peringatan Hardiknas 2026 yang diikuti oleh mahasiswa Pendidikan Profesi Guru (PPG), akademisi, serta praktisi pendidikan dari berbagai daerah di Indonesia.
Posting Komentar