Ardiansyah Bakrie Bocorkan 'Senjata Rahasia' Percepat Ekosistem Mobil Listrik di Indonesia
smelectronik.CO.ID, PT VKTR Teknologi Mobilitas Tbk (VKTR) menegaskan komitmennya untuk mempercepat penerimaan kendaraan listrik (EV) di tingkat nasional dengan memperkuat produksi dalam negeri dan kerja sama lintas sektor. Pada acara VKTR Day, Selasa (3/2), perusahaan memperkuat kemitraan dengan pemerintah, lembaga penelitian, serta pelaku industri untuk menciptakan ekosistem transportasi yang berkelanjutan dan terintegrasi.
CEO VKTR, Anindra Ardiansyah Bakrie, mengungkapkan bahwa pengembangan kendaraan listrik tidak dapat dilakukan secara mandiri. Sebagai tindakan nyata, VKTR menyerahkan 10 unit kendaraan bertenaga listrik kepada instansi pemerintah daerah, terdiri dari lima unit compactor sampah dan lima unit dump truck. Kendaraan tersebut akan mendukung program Waste to Energy (WtE), di mana sampah perkotaan dikumpulkan dan diolah menjadi energi bersih.
"Integrasi mobilitas listrik ke dalam rantai nilai pengelolaan limbah menunjukkan bahwa sektor transportasi berperan langsung dalam peralihan energi Indonesia," kata Direktur VKTR, V. Bimo Kurniatmoko.
Selain itu, VKTR memperluas kerja sama riset strategis dengan BloombergNEF melalui Bakrie Center Foundation dan menandatangani perjanjian kerja sama dengan PT Panah Perak Megasarana untuk distribusi pelet biomassa. Dalam sektor transportasi umum, VKTR melaporkan pengiriman 50 unit bus listrik untuk Transjakarta melalui operator DAMRI, serta penyediaan bus listrik untuk sektor pertambangan BUMN dan lembaga pendidikan yang direncanakan selesai pada kuartal II 2026.
Ambisi Sangat Serius
Indonesia menunjukkan komitmen yang sangat serius dalam membangun ekosistem kendaraan listrik (EV) secara menyeluruh, mulai dari hulu hingga hilir. Komitmen ini bukan hanya sekadar mengikuti arus global, melainkan tindakan strategis untuk memanfaatkan kekayaan sumber daya alam berupa cadangan nikel terbesar di dunia. Pemerintah telah menyusun rencana strategis yang mengintegrasikan penambangan nikel, pembangunan pabrik baterai, hingga pengembangan industri manufaktur kendaraan listrik di dalam negeri agar Indonesia tidak hanya menjadi pasar, tetapi juga pemain utama dalam rantai pasok global.
Komitmen ini diperkuat melalui kerangka hukum yang sangat maju, seperti Peraturan Presiden Nomor 55 Tahun 2019 dan pembentukan badan besar seperti Indonesia Battery Corporation (IBC). Pemerintah juga memberikan berbagai insentif fiskal dan non-fiskal yang besar, mulai dari subsidi pembelian kendaraan listrik sebesar Rp7 juta, penghapusan pajak (PPnBM 0%), hingga aturan bebas ganjil genap untuk mobil listrik di Jakarta. Semua langkah ini dilakukan guna meningkatkan daya beli masyarakat serta memberikan kepastian bagi investor global seperti Hyundai, Wuling, hingga VKTR untuk terus berkembang di Nusantara.
Bila dibandingkan dengan kendaraan bermotor berbahan bakar minyak (BBM), keunggulan utama kendaraan listrik terletak pada efisiensi energi yang jauh lebih besar. Kendaraan listrik mampu mengubah lebih dari 80% energi listrik dari jaringan menjadi tenaga gerak di roda, sedangkan mesin pembakaran dalam (ICE) hanya mampu mengubah sekitar 20% energi bensin menjadi daya, sisanya hilang sebagai panas. Dalam hal operasional, biaya pengisian baterai jauh lebih murah dibandingkan membeli bensin, sehingga pengguna dapat menghemat pengeluaran bahan bakar hingga 60-70% setiap bulannya. Jika dibandingkan dengan kendaraan konvensional yang menggunakan bahan bakar minyak (BBM), keunggulan paling mendasar dari kendaraan listrik adalah tingkat efisiensi energi yang sangat tinggi. Kendaraan listrik mampu mengubah lebih dari 80% energi listrik yang diperoleh dari jaringan menjadi tenaga untuk menggerakkan roda, sementara mesin pembakaran dalam (ICE) hanya mampu mengubah sekitar 20% energi bensin menjadi daya, dengan sisa yang terbuang sebagai panas. Secara operasional, biaya pengisian listrik jauh lebih rendah dibandingkan membeli bensin, sehingga pengguna bisa mengurangi pengeluaran bahan bakar hingga 60-70% per bulan. Dibandingkan dengan kendaraan bermotor konvensional yang mengandalkan bahan bakar minyak (BBM), keunggulan utama kendaraan listrik adalah efisiensi energi yang jauh lebih baik. Kendaraan listrik mampu mengubah lebih dari 80% energi listrik dari jaringan menjadi tenaga penggerak, sedangkan mesin pembakaran dalam (ICE) hanya mampu mengubah sekitar 20% energi bensin menjadi daya, sementara sisanya terbuang sebagai panas. Dalam penggunaan sehari-hari, biaya pengisian daya listrik lebih murah dibandingkan membeli bensin, sehingga pengguna dapat menghemat pengeluaran bahan bakar hingga 60-70% setiap bulannya.
Selain pertimbangan biaya, kendaraan listrik memberikan pengalaman berkendara yang jauh lebih baik terkait kenyamanan. Motor listrik menghasilkan torsi langsung, sehingga akselerasi terasa sangat responsif sejak awal tanpa ada jeda atau perpindahan gigi. Kendaraan listrik juga beroperasi hampir tanpa suara (senyap) dan tanpa getaran mesin, yang secara signifikan mengurangi polusi suara di perkotaan serta menciptakan perjalanan yang lebih tenang bagi pengemudi maupun penumpang.
Alasan utama mengapa dunia, termasuk Indonesia, perlu beralih ke kendaraan listrik adalah untuk menjaga lingkungan dan kesehatan masyarakat. Kendaraan konvensional menjadi sumber utama emisi gas rumah kaca serta polutan berbahaya seperti karbon monoksida (CO) dan nitrogen oksida (NOx) yang memperparah kualitas udara di perkotaan. Kendaraan listrik tidak menghasilkan emisi dari knalpot, sehingga tidak mengeluarkan asap sama sekali, menjadikannya solusi terbaik untuk mengurangi kasus infeksi saluran pernapasan dan memperlambat pemanasan global.
Dari sudut pandang keamanan energi nasional, peralihan menuju kendaraan listrik sangat mendesak karena Indonesia saat ini masih menjadi importir bersih minyak bumi. Ketergantungan terhadap BBM impor memberatkan APBN melalui subsidi energi yang terus meningkat dan menyebabkan ekonomi kita rentan terhadap perubahan harga minyak global. Dengan beralih ke listrik, Indonesia mampu memanfaatkan sumber daya energi dalam negeri seperti batubara (pada masa sekarang) serta energi terbarukan (matahari, air, dan panas bumi) di masa depan, sehingga menciptakan kemandirian energi yang lebih kuat.
Keunggulan teknis lainnya adalah biaya perawatan yang sangat rendah. Mesin konvensional memiliki ratusan komponen bergerak seperti piston, katup, sabuk transmisi, dan sistem knalpot yang membutuhkan pelumasan berkala serta penggantian suku cadang secara rutin. Sebaliknya, kendaraan listrik hanya memiliki sekitar 20 komponen bergerak utama. Tidak ada penggantian oli mesin, tidak ada perawatan kabel busi, dan sistem pengereman lebih tahan lama karena teknologi pemanfaatan energi kembali. Hal ini menjadikan biaya perawatan jangka panjang kendaraan listrik jauh lebih hemat dibandingkan kendaraan bensin.
Selain itu, kendaraan listrik menjadi pintu masuk menuju teknologi masa depan. Platform listrik memungkinkan pengintegrasian perangkat lunak canggih yang lebih mudah, mulai dari sistem kemudi otonom, pembaruan fitur melalui internet (over-the-air updates), hingga fitur keselamatan berbasis AI yang lebih akurat. Kendaraan listrik bukan hanya sebagai alat transportasi, tetapi merupakan "komputer berjalan" yang mampu berinteraksi dengan infrastruktur kota cerdas (smart city) untuk meningkatkan kelancaran lalu lintas dan efisiensi penggunaan energi secara nasional.
Pemerintah juga menunjukkan komitmen yang kuat dalam mempercepat pengembangan infrastruktur pengisian daya. Pembangunan SPKLU (Stasiun Pengisian Kendaraan Listrik Umum) kini telah mencakup pusat perbelanjaan, kantor, hingga area istirahat di jalan tol. Dengan teknologi pengisian cepat, kekhawatiran terhadap jarak tempuh (range anxiety) secara bertahap mulai berkurang. Komitmen ini menunjukkan bahwa Indonesia sedang membangun dasar ekonomi hijau yang kuat, dengan mobilitas listrik menjadi tulang punggung utama dalam menciptakan lingkungan yang lebih bersih dan sistem ekonomi yang lebih efisien.
Berpindah ke kendaraan listrik merupakan keputusan yang masuk akal dan tidak bisa dihindari. Dengan dukungan dari produsen lokal yang terus berkembang seperti VKTR serta pelaku industri lainnya, kendaraan listrik akan segera menjadi standar baru. Keunggulan dalam efisiensi, kenyamanan, biaya perawatan yang rendah, serta dampak positif terhadap lingkungan menjadikan kendaraan listrik sebagai fondasi utama menuju Indonesia Emas 2045 yang berkelanjutan dan kompetitif di tingkat global.
Posting Komentar