Bulan Jauh, Dosen IPB Jelaskan Pengaruhnya pada Cuaca

FENOMENA Bulanyang perlahan berpindah menjauhiBumisering memicu berbagai teori, mulai dariperubahan iklimhingga dampak terhadap kehidupan manusia. Dosen Departemen Geofisika dan Meteorologi IPB University, Sonni Setiawan, menjelaskan peristiwa ini berkaitan dengan bentuk jalur orbit Bulan yang berbentuk elips, bukan lingkaran sempurna.
"Efek Bulan menjauh dari Bumi terjadi akibat orbit revolusi Bulan mengelilingi Bumi yang berbentuk elips. Terdapat waktu ketika Bulan berada pada jarak paling dekat (perigee) dan jarak paling jauh (apogee) selama setiap siklus revolusi Bulan," ujarnya dalam keterangan tertulis, Rabu, 4 Februari 2026.
Hal yang sama juga berlaku terhadap orbit Bumi mengelilingi Matahari, di mana peristiwa perihelion terjadi pada bulan Januari dan aphelion pada bulan Juli setiap tahunnya.
Sonni menyatakan bahwa fenomena astronomi ini adalah proses alami dan tidak perlu menimbulkan kecemasan berlebihan. Mengenai dampak terhadap manusia, efeknya tidak terjadi secara langsung, tetapi melalui mekanisme tertentu di Bumi. Contohnya adalah pasang surut laut yang disebabkan oleh gaya gravitasi Bulan. Kenaikan permukaan air laut akibat pasang surut dapat memengaruhi kegiatan nelayan dan daerah pesisir.
Dalam sistem iklim, fenomena ini tidak memiliki dampak langsung. "Jika terhadap sistem iklim tidak secara langsung, karena durasi iklim mencakup tahunan hingga puluhan tahun," ujar Sonni.
Menurutnya, salah satu faktor luar yang lebih berpengaruh terhadap iklim berkaitan dengan posisi Bumi terhadap Matahari adalah variasi eksentrisitas orbit Bumi, perubahan kemiringan sumbu rotasi Bumi, serta pergeseran presesi sumbu Bumi. Perubahan tiga orientasi Bumi terhadap Matahari dikenal sebagai Siklus Milankovitch.
Menurutnya, setiap perubahan komponen ini memiliki siklus tertentu. Perubahan eksentrisitas orbit Bumi terjadi setiap 100.000 hingga 400.000 tahun, perubahan kemiringan sumbu Bumi terjadi setiap 41.000 tahun, dan perubahan presesi Bumi terjadi setiap 26.000 tahun.
"Perubahan orientasi Bumi menyebabkan perbedaan radiasi Matahari yang diterima oleh Bumi sebagai sumber utama energi iklim, sehingga perubahan ini berdampak pada iklim Bumi dalam skala waktu ribuan hingga ratusan ribu tahun," ujarnya.
Selain perubahan arah bumi terhadap matahari, konstelasi planet di tata surya juga bisa memengaruhi kondisi atmosfer di bumi. Ketika planet-planet berada dalam posisi konjungsi, gaya gravitasi yang kuat dapat mempengaruhi kondisi atmosfer bumi.
"Ketika planet berada dalam posisi konjungsi, uap air dapat terangkat, sehingga meningkatkan kemungkinan pembentukan awan. Karena peristiwa konjungsi planet terjadi dalam jangka ratusan tahun dan dampaknya bersifat global, hal ini bisa memicu perubahan pada sistem iklim," ujarnya.
Posting Komentar