Dosen UGM Soroti Tantangan Ekstraksi Logam Langka

Potensi Logam Tanah Jarang di Mamuju, Sulawesi Barat
Wilayah Mamuju, Sulawesi Barat, kini menjadi perhatian besar dalam dunia pertambangan logam tanah jarang. Kawasan ini dinilai memiliki potensi yang sangat menjanjikan dan direncanakan sebagai proyek percontohan hilirisasi logam tanah jarang nasional. Penemuan ini memperkuat posisi Indonesia dalam peta mineral strategis global, terutama di tengah meningkatnya permintaan akan logam tersebut akibat ketegangan geopolitik dan persaingan teknologi tinggi.
Logam tanah jarang memiliki berbagai kegunaan penting, termasuk dalam komponen mesin jet pesawat tempur, pesawat komersial, hingga sistem persenjataan seperti rudal. Selain itu, logam ini juga menjadi bahan utama dalam industri elektronik, sensor bawah laut, sistem pertahanan antirudal, alat pelacak, pembangkit energi satelit, serta teknologi komunikasi.
“Riset logam tanah jarang di Indonesia bukan hal baru. Sejak 2008, ada proyek kerja sama antara Indonesia dan Jepang yang didanai oleh Japan International Cooperation Agency (JICA),” ujar Lucas Donny Setijadji, dosen Departemen Teknik Geologi Fakultas Teknik Universitas Gadjah Mada (UGM), dalam keterangan tertulisnya pada Rabu, 18 Februari 2026.
Perubahan momentum global terjadi setelah Tiongkok membatasi ekspor logam tanah jarang. Kebijakan ini memicu kekhawatiran negara-negara industri, terutama Jepang, yang sangat bergantung pada pasokan mineral tersebut untuk sektor teknologi dan manufaktur. Dari sana, eksplorasi logam tanah jarang digencarkan di berbagai kawasan, termasuk Asia Tenggara dan Afrika.
Di dalam negeri, pemerintah membentuk Badan Industri Mineral (BIM) untuk mengoordinasikan riset dan kebijakan pengelolaan mineral strategis. Menurut Lucas, pembentukan lembaga ini menunjukkan bahwa pemerintah mulai memberi perhatian serius pada mineral kritis, sekaligus membuka ruang kolaborasi riset dengan perguruan tinggi.
Namun, ia mengingatkan agar dibedakan antara potensi dan realitas produksi. Berbeda dengan komoditas seperti emas dan tembaga yang telah ditambang secara masif, logam tanah jarang di Indonesia masih berada pada tahap eksplorasi dan pengujian keekonomian. Hingga saat ini, Indonesia belum memiliki izin usaha pertambangan khusus untuk komoditas tersebut.
Pemerintah memilih pendekatan kehati-hatian karena logam tanah jarang dipandang sebagai kekayaan strategis negara yang harus dikelola sesuai amanat Pasal 33 UUD 1945. Beberapa negara di kawasan, seperti Vietnam, Laos, dan Myanmar, sudah lebih dulu memproduksi logam tanah jarang. “Indonesia memang relatif tertinggal, tetapi itu juga bagian dari kehati-hatian kebijakan,” ujarnya.
Potensi logam tanah jarang di Mamuju awalnya teridentifikasi melalui penelitian anomali radioaktif oleh Badan Tenaga Nuklir Nasional (BATAN). Dalam perkembangannya, wilayah tersebut diketahui memiliki kandungan logam tanah jarang yang tergolong tinggi untuk ukuran Indonesia. Riset lanjutan, termasuk oleh peneliti alumni Teknik Geologi UGM, memperkuat indikasi tersebut.
Menurut Lucas, tantangan terbesar bukan hanya menemukan cadangan, tetapi juga penguasaan teknologi ekstraksi. Logam tanah jarang sering berasosiasi dengan unsur radioaktif dan memiliki karakter mineral berbeda di setiap lokasi, sehingga membutuhkan metode pengolahan yang sangat spesifik dan presisi tinggi.
Selain di Sulawesi Barat, potensi logam tanah jarang juga teridentifikasi di Bangka Belitung, Kalimantan, dan sejumlah wilayah Sumatera. Namun, seluruhnya masih memerlukan kajian lanjutan untuk memastikan kelayakan ekonomi dan dampak lingkungannya.
“Eksplorasi mineral adalah proses panjang dan kolaboratif. Ke depan, tantangannya bukan hanya menemukan, tetapi bagaimana Indonesia benar-benar mampu mengolahnya sendiri,” kata Lucas.
Posting Komentar