Indonesia dan Jepang percepat ekosistem hidrogen

Table of Contents

smelectronik,JAKARTA — Kementerian Energi dan Sumber Daya Mineral (ESDM) mempercepat pengembangan sistem ekosistemhidrogendi Indonesia sehingga berjalan seiring dengan Strategi Hidrogen Nasional dan Rencana Hidrogen dan Amonia Nasional (RHAN). Kolaborasi dengan Jepang dianggap sebagai kesempatan yang besar.

Direktur Jenderal Energi Baru, Terbarukan, dan Konservasi Energi (EBTKE) Kementerian ESDM Eniya Listiani Dewi menyampaikan bahwa penerapan ekosistem hidrogen akan dilakukan secara bertahap.

Menurutnya, tindakan ini dilakukan guna mempersiapkan regulasi, infrastruktur, permintaan pasar, dan kemampuan dalam negeri, sambil tetap menjaga fleksibilitas kebijakan dan melakukan evaluasi berkala.

Ia menyampaikan, pelaksanaan dilakukan melalui tiga tahap. Tahapan tersebut meliputi Tahap Inisiasi pada 2025-2034, Tahap Pengembangan dan Integrasi pada 2035-2045, serta Tahap Akselerasi dan Keberlanjutan pada 2045-2060.

Jadi menurut saya pada tahun ini, 2026, yang merupakan KPI [key performance indicatorSaya menyampaikan bahwa hidrogen hijau perlu tersedia di pasar sekitar 200 ton per tahun. Kita harus mencapainya dan kita berharap dapat menghasilkan lebih banyak," ujar Eniya melalui keterangan resmi yang dikutip pada Rabu (4/2/2026).

Ia menjelaskan bahwa pengembangan hidrogen bukan hanya alat untuk mengurangi emisi karbon, tetapi juga fondasi dari transformasi ekonomi dan industrialisasi jangka panjang. Hal ini sangat penting khususnya bagi sektor industri, transportasi, pembangkit listrik, serta sektor yang berorientasi ekspor.

Eniya menyatakan, ekosistem hidrogen akan memperkuat ketahanan energi nasional sambil mendorong industrialisasi yang rendah karbon dan kompetitif di pasar global.

Mengenai perkembangan ekosistem hidrogen, ia menilai kemitraan strategis dengan Jepang melalui Japan International Cooperation Agency (JICA) memiliki peran yang signifikan.

Menurutnya, kerja sama ini menggabungkan keahlian teknologi serta pengalaman pengembangan proyek dan instrumen pendanaan Jepang, dengan potensi energi terbarukan, skala pasar, serta prospek permintaan jangka panjang di Indonesia.

Rencana Kerja Sama Indonesia-Jepang diharapkan menjadi pemicu untuk kolaborasi industri yang lebih erat, didukung oleh peningkatan pendanaan pemerintah dan pengurangan risiko tahap awal guna mempercepat pembangunan infrastruktur hidrogen yang layak secara ekonomi.

Di sisi lain, Perwakilan Senior JICA Indonesia Akira Sato menganggap arah kebijakan pemerintah di bawah kepemimpinan Presiden Prabowo menunjukkan komitmen terhadap kemandirian energi dan pangan serta menjaga stabilitas makroekonomi dan pertumbuhan yang lebih inklusif.

"Tujuan kebijakan sudah jelas, yaitu menjaga kemandirian, mendorong investasi, serta mengubah momentum tersebut menjadi pembangunan yang lebih inklusif," kata Kato.

Bersamaan dengan kebijakan tersebut, Kementerian ESDM telah menyusun RHAN sebagai pedoman untuk mengarahkan komersialisasi hidrogen dan amonia di Indonesia. Di sisi lain, JICA menegaskan komitmennya untuk terus mendukung peralihan energi serta pengembangan ekosistem hidrogen.

JICA, menurutnya, terus melanjutkan kerja sama untuk mendukung peralihan energi Indonesia dan perkembangan ekosistem hidrogen.

"Dengan kerja sama dari seluruh pihak, kini kita telah mampu menyusun Peta Jalan Kolaborasi Indonesia-Jepang untuk mempercepat perkembangan masyarakat hidrogen-amonia di Indonesia [HASI], sebuah peta jalan yang melengkapi RHAN dan menjelaskan metode kolaborasi nyata antara kedua negara kami," tutup Kato.

Posting Komentar