Indonesia Siap Bangun PLTN 7 Gigawatt Hingga 2034

Wakil Khusus Presiden untuk Isu Iklim dan Energi Hashim Djojohadikusumo menyatakan bahwa Indonesia akan membangunpembangkit listrik tenaga nuklirdengan kapasitas total tujuh gigawatt (GW) dalam delapan tahun mendatang. Ia menyebutkan pembangunanPLTNini adalah sesuatu yang baru bagi pemerintah.
"Pertama-tama akan dibangun 500 megawatt (mw) dan secara bertahap akan mencapai tujuh gw PLTN hingga 2034," ujar Hashim dalam acara Indonesia Economic Summit 2026, Rabu (4/2).
Ia menyebutkan bahwa banyak negara menunjukkan ketertarikan untuk ikut serta dalam pembangunan pembangkit listrik tenaga nuklir di Indonesia. Mereka juga sedang mengkaji berbagai hal, termasuk teknologi yang diperlukan dalam PLTN.
Meskipun demikian, Hashim tidak menjelaskan negara-negara yang menunjukkan ketertarikan terhadap pengembangan pembangkit listrik tenaga nuklir di Indonesia.
"Ini adalah bukti komitmen yang kuat, meskipun bukan solusi berbasis alam, tetapi (PLTN) ini merupakan energi hijau, netral karbon," katanya.
RUPTL 2025 - 2034
Indonesia rencananya akan membangun PLTN dalam kurun waktu 10 tahun mendatang. Informasi ini terdapat dalam Rencana Umum Penyediaan Tenaga Listrik atau RUPTL PT PLN 2025 - 2034.
Kementerian Energi dan Sumber Daya Mineral (ESDM) menyatakan bahwa Indonesia akan membangun pembangkit listrik tenaga nuklir mulai tahun 2027. Menurut presentasi Menteri ESDM Bahlil Lahadalia, kapasitas PLTN yang direncanakan adalah 500 mw.
“Lokasinya berada di Sumatra dan Kalimantan,” ujar Bahlil dalam konferensi pers beberapa waktu lalu (26/5/2025). Pemilihan tempat ini telah melalui evaluasi kelayakan dan prioritas, serta analisis mendalam dari pemerintah.
Pemerintah telah menyiapkan berbagai peraturan mengenai PLTN di bawah kepemimpinan Direktur Jenderal EBTKE Eniya Listiani Dewi. "Rencana kami akan selesai pada 2032, dengan waktu pembangunan empat hingga lima tahun," katanya.
Eniya memprediksi dimulainya pembangunan pada tahun 2027, dimulai dengan kapasitas yang terbatas terlebih dahulu.
Berdasarkan laporan Kementerian ESDM, RUPTL terbaru merencanakan peningkatan kapasitas pembangkit listrik menjadi 69,5 gw hingga tahun 2034. Dari jumlah tersebut, sekitar 76% berasal dari Energi Baru Terbarukan (EBT) serta sistem penyimpanan.
Komposisi dalam RUPTL terdiri dari 42,6 gw untuk pembangkit EBT (61%) dan 10,3 gw untuk penyimpanan (15%), serta pembangkit berbahan bakar fosil sebesar 16,6 gw (24%).
Komposisi pasokan energi terbarukan meliputi berbagai sumber daya, yaitu matahari sebesar 17,1 gw, air 11,7 gw, angin 7,2 gw, panas bumi 5,2 gw, bioenergi 900 mw, serta nuklir 0,5 gw.
Sementara kapasitas pembangkit penyimpanan sebesar 10,3 gw terdiri dari dua jenis sumber energi, yaitu baterai sebesar 6 gw dan PLTA Pompa Sebanyak 4,3 gw. Sedangkan pembangkit yang menggunakan energi fosil sebesar 16,6 gw terdiri dari gas sebesar 10,3 gw dan batu bara sebesar 6,3 gw.
Pemerintah mengumumkan kebijakan energi tersebut menunjukkan komitmen untuk menjaga keseimbangan antara kebutuhan pertumbuhan ekonomi, ketahanan energi, serta pengurangan emisi karbon secara berkelanjutan.
Pemutusan untuk memulai pembangunan PLTN juga memberikan kesempatan investasi baru, baik dari segi pendanaan maupun pengadaan teknologi, seiring dengan meningkatnya kebutuhan listrik nasional dalam jangka panjang.
Posting Komentar