Industri energi Asia Pasifik berkembang pesat, apa pendorong utamanya?

smelectronic, JAKARTA – Wood Mackenzie memperkirakan industri energi di Asia Pasifik akan mengalami pertumbuhan yang pesat. Hal ini terjadi seiring dengan meningkatnya instalasi pusat data dan pergeseran kebijakan energi yang secara signifikan memengaruhi lanskap ketenagalistrikan kawasan pada 2026.
Laporan dari Wood Mackenzie berjudul "Lima Tren yang Perlu Diperhatikan di Sektor Energi dan Energi Terbarukan Asia Pasifik" menyoroti tren utama yang sedang membentuk pasar energi di kawasan ini pada tahun ini. Menurut laporan tersebut, Asia Pasifik menjadi penyumbang utama pertumbuhan permintaan energi global. Peningkatan kapasitas energi mencapai 790 TWh dalam tahun ini. Faktor pendorong utamanya adalah pematangan pasar, perubahan regulasi, serta munculnya hambatan rantai pasokan dalam pembangkitan konvensional.
“Pusat data bukan lagi sekadar beban khusus; mereka adalah pendorong utama permintaan transformasional di seluruh Asia Pasifik,” ujar Yanqi Cao, Analis Senior, Riset Tenaga Listrik Asia Pasifik, Wood Mackenzie.
Menurutnya, Jepang sebagai salah satu pasar energi besar di Asia Pasifik, memiliki potensi untuk mengalami peningkatan permintaan. Hal ini juga mengubah tren permintaan energi Jepang yang selama satu dekade terakhir cenderung mengalami penurunan.
Wood Mackenzie memperkirakan bahwa permintaan energi di Asia Pasifik akan terus meningkat seiring dengan kebutuhan akan pusat data di kawasan tersebut. Persaingan global untuk kapasitas AI dan pusat data secara fundamental mengubah pola permintaan listrik. Meskipun AS dan Eropa diproyeksikan masing-masing akan mewakili 9% dan 5% dari pertumbuhan permintaan global pada 2026, dibandingkan dengan rata-rata 5% dan 1% selama dekade terakhir, Asia Pasifik tetap menjadi pemain utama global.
Dalam laporan tersebut, kawasan ini diperkirakan akan menyumbang 85% dari 920 TWh tambahan daya yang dibutuhkan secara global pada tahun ini. China, sebagai pasar listrik terbesar di dunia, terus berkembang dengan skala dua kali lipat dari AS, Eropa, dan seluruh kawasan Asia Pasifik lainnya jika digabungkan.
Di luar China, pertumbuhan kawasan ini didorong oleh India dan Asia Tenggara, yang masing-masing diperkirakan akan menyumbang 50% dan 25% dari pertumbuhan permintaan regional yang tersisa.
Selain itu, Wood Mackenzie memperkirakan bahwa tahun ini menjadi titik pengendalian pertumbuhan energi terbarukan. Sebelumnya, China diperkirakan akan menurunkan instalasi tenaga surya dan angin untuk pertama kalinya dalam satu dekade, turun menjadi 318 GW pada tahun 2026.
Mekanisme penetapan harga listrik yang baru memaksa pengembang untuk menghadapi paparan pasar spot yang lebih besar, sehingga mengurangi investasi jangka pendek. Adapun untuk India, yang sempat mencatat rekor pada 2025, aktivitas tender telah melambat karena pasar merasionalisasi proyek yang dilanda kemacetan transmisi. Pada 2026 akan menjadi tahun "kualitas di atas kuantitas", dengan tender baru yang semakin mewajibkan penyimpanan dan kewajiban fleksibilitas jaringan.
Posting Komentar