Investasi Vinfast-BYD, Airlangga: RI Menuju Kemandirian Kendaraan Listrik

Table of Contents

Kesiapan Indonesia Menuju Kemandirian Kendaraan Listrik

Kementerian Koordinator (Kemenko) Bidang Perekonomian RI mengungkapkan bahwa Indonesia telah siap memasuki fase kemandirian kendaraan listrik (electric vehicle/EV). Hal ini diungkapkan oleh Deputi Bidang Koordinasi Perniagaan dan Ekonomi Digital Kemenko Perekonomian, Ali Murtopo Simbolon, dalam acara EVolution Indonesia Forum 2026.

Menurutnya, investasi besar-besaran di industri otomotif, terutama kendaraan listrik, memiliki peran penting dalam pertumbuhan ekonomi nasional. “Peranan industri otomotif terhadap perekonomian kita cukup besar, yaitu sebesar 1,28% terhadap pembentukan PDB di triwulan III/2025. Ini menempatkan posisi keempat sektor industri pengolahan setelah industri makanan-minuman, kimia-farmasi, dan elektronik,” ujarnya.

Perhatian Serius dari Pemerintah

Pemerintah memberikan perhatian serius terhadap sektor otomotif, khususnya kendaraan listrik (EV), melalui berbagai insentif fiskal maupun non-fiskal. Hasilnya, Indonesia mencapai investasi sekitar 15,5% khusus untuk EV dengan kapasitas yang terpasang lebih dari 300.000 unit. Investasi tersebut sudah terealisasi hampir 90%.

Data Gabungan Industri Kendaraan Bermotor Indonesia (Gaikindo) menunjukkan bahwa total penjualan wholesales mobil listrik murni sepanjang 2025 mencapai 103.931 unit. Angka ini meningkat 140,64% (year-on-year/yoy) dibandingkan capaian pada 2024 sebesar 43.188 unit.

Ketergantungan Impor yang Mulai Berubah

Meskipun demikian, sekitar 75% mobil listrik yang dijual di Indonesia tahun lalu masih berstatus impor utuh (completely built up/CBU) sepanjang 2025. Namun, Ali menyatakan bahwa Indonesia siap melepaskan ketergantungan impor kendaraan listrik, seiring dengan mulai beroperasinya fasilitas perakitan EV pada tahun ini.

Ekosistem dari hulu hingga hilir, mulai dari smelter, pabrik, tambang, prekursor hingga baterai, ekosistem EV di Indonesia juga sudah siap. “Para pelaku industri EV sudah menjadi bagian dari ekosistem kita. Ada VinFast, Chery, BYD, dan merek-merek lain. Mereka juga sudah siap ada di pasar dan ini membuat kita yakin bahwa pasar dalam negeri sudah siap menuju kemandirian,” kata Ali.

Insentif untuk Pabrikan

Sejumlah pabrikan yang telah menikmati insentif impor meliputi BYD, Geely, VinFast, serta PT National Assembler yang membawahi Citroen, Aion, Maxus dan Volkswagen (VW). Total investasi yang digelontorkan para produsen ini mencapai sekitar Rp15,52 triliun, dengan kewajiban memulai produksi lokal BEV pada 2026.

Produsen EV asal China, BYD dilaporkan akan segera mengoperasikan pabriknya di Indonesia pada kuartal I/2026. Dengan nilai investasi mencapai Rp11,2 triliun, pabrik tersebut disiapkan untuk kapasitas produksi hingga 150.000 unit per tahun.

Komitmen VinFast untuk Produksi Lokal

Selain itu, pabrikan Vietnam, VinFast telah menggelontorkan investasi lebih dari US$300 juta dengan kapasitas produksi awal sekitar 50.000 unit kendaraan per tahun. Fasilitas manufaktur Vinfast Subang dibangun di atas lahan seluas 171 hektare.

VinFast pun menegaskan komitmennya untuk meningkatkan nilai investasi di Indonesia secara bertahap hingga menembus US$1 miliar atau setara Rp16 triliun. Pada fase ini, kapasitas produksi ditargetkan mencapai 350.000 unit kendaraan per tahun untuk melayani pasar domestik sekaligus membuka peluang ekspor.

Posting Komentar