Keuntungan dan Kerugian TikTok Pertahankan Tokopedia di Indonesia
smelectronik,JAKARTA — Beberapa pakar mengungkapkan keuntungan dan kerugian yang dialamiTikToksetelah perusahaan itu mengumumkan akan tetap melakukan investasi diTokopedia.
Nailul Huda dari Center of Economic and Law Studies (Celios) menyatakan bahwa Tokopedia memiliki lingkungan bisnis yang solid di sektor e-commerce Indonesia dan mampu bersaing dengan Shopee.
Ia menyatakan bahwa ekosistem penjual dan pembeli yang solid dapat menjadi senjata sekaligus keunggulan bagi TikTok dan Tokopedia dalam bersaing dengan Shopee.
"Khususnya TikTok Shop dan Shopee memiliki ciri-ciri konsumen yang mirip, sedangkan Tokopedia memiliki karakteristik konsumen yang cukup berbeda," ujar Huda kepada Bisnis pada Rabu (4/2/2026).
Huda menganggap Tokopedia mampu menjadi pemimpin dalam kategori produk elektronik dan hobi yang kurang diminati oleh TikTok Shop serta Shopee. Selain itu, label "produk dalam negeri" di Tokopedia juga memberikan keuntungan bagi TikTok.
"Saya pikir, kerugian besar justru akan dirasakan ketika TikTok menghentikan Tokopedia," tambahnya.

Berbeda, Ketua Umum Indonesian Digital Empowering Community (Idiec) Tesar Sandikapura justru menganggap saatnya TikTok melepaskan Tokopedia dan fokus pada TikTok Shop sebagai platform e-commerce sosial.
"Dan di pasar saat ini pengguna TikTok semakin meningkat," ujar Tesar.
Menurut Tesar, mempertahankan dua platform sekaligus berisiko menyebabkan pemborosan dalam hal operasional dan pemasaran. Ia menekankan bahwa Tokopedia sebaiknya dijual agar TikTok bisa lebih berkonsentrasi pada pengembangan TikTok Shop.
Ia menyebutkan bahwa jumlah pengguna Tokopedia saat ini sekitar 65 juta. Di sisi lain, TikTok Shop telah mencapai sekitar 120 hingga 140 juta pengguna.
"Saya juga merasa bahwa dengan melepas Tokopedia, TikTok Shop menjadi lebih efisien. Sehingga tidak ada lagi dual brand yang menyebabkan pemborosan jika menghadirkan dua merek seperti itu," katanya.
Di sisi lain, TikTok secara langsung menyangkal kabar penutupan aplikasi Tokopedia. Penyangkalan ini diungkapkan melalui pernyataan resmi dari perusahaan.
"Kami mendengar isu mengenai masa depan Tokopedia. Isu tersebut tidak benar," tulis Manajemen TikTok kepada Bisnis pada Rabu (4/2/2026).
Respons Seller
Di tengah rencana pengintegrasian antara Tokopedia dan TikTok Shop, para pedagang online mengungkapkan keluhan mereka. Beberapa penjual di Tokopedia mulai menyampaikan ketidakpuasan terhadap sistem bisnis setelah kedatangan TikTok. Isu-isu seperti efisiensi biaya dan kurangnya perhatian dari pihak manajemen menjadi penyebab utamanya.
Rakha, seorang pedagang online, memutuskan untuk melakukan tindakan ekstrem terhadap bisnisnya. Ia mengakui bahwa ia secara perlahan telah beralih dari penggunaan aplikasi Tokopedia ke platform e-commerce lain sejak merger tahun lalu.
"Saya sudah merasa sejak bergabung dengan TikTok Shop. Potongan di TikTok semakin besar," kata Rakha kepada Bisnis.
Keluhan juga diungkapkan oleh Afif, seorang penjual Tokopedia yang masih aktif hingga saat ini.
Ia menganggap terjadi perubahan yang signifikan dalam dukungan platform terhadap para penjual setelah integrasi antara Tokopedia dan TikTok Shop berlangsung.
Afif merasa bahwa manajemen saat ini mulai mengabaikan para penjual yang masih bertahan di aplikasi lama. Rasa kecewa ini mendorongnya untuk mencoba platform pesaing seperti Shopee. Ketika ditanya tentang tanggapan terhadap penghapusan aplikasi Tokopedia, dia mengaku menerima dengan ikhlas.
"Tutup saja. Saat bergabung dengan TikTok Shop, memang sudah kurang diperhatikan di Tokopedia. Sekarang ingin mencoba di Shopee," ujar Afif.
Sebelumnya, manajemen TikTok menyatakan bahwa perusahaan akan terus melakukan investasi di Tokopedia dan Indonesia. Tokopedia dipastikan tetap berjalan penuh dengan fokus pada peningkatan pengalaman pengguna untuk mendorong pertumbuhan jangka panjang.
Isu penutupan Tokopedia sebelumnya menjadi topik yang banyak dibicarakan di media sosial X. Informasi ini memicu berbagai spekulasi bahwa TikTok Shop akan beroperasi sebagai aplikasi terpisah, sementara aplikasi Tokopedia akan dihentikan penggunaannya.
Pos ini berasal dari akun yang sering mengunggah data terkait bisnis e-commerce dan inovasi teknologi.
"Kata-kata dari teman-teman di Tokopedia, mereka akan menghentikan aplikasi Toped dan TikTok Shop akan memiliki aplikasi terpisah sendiri," tulis @ecommurz dikutip dari X.
Sebagai informasi, TikTok memberikan dana sebesar US$1,5 miliar atau sekitar Rp23 triliun untuk membeli 75,01% saham Tokopedia pada awal Januari 2024. Dalam transaksi ini, Tokopedia menerbitkan 38,19 juta saham baru yang seluruhnya dimiliki oleh TikTok.
Laporan Momentum Works berjudul Ecommerce in Southeast Asia 2024 menunjukkan bahwa TikTok Shop berhasil meningkatkan nilai transaksi kotor atau Gross Merchandise Value (GMV) hampir empat kali lipat. GMV TikTok Shop naik dari US$4,4 miliar atau sekitar Rp71,32 triliun pada tahun 2022 menjadi US$16,3 miliar atau sekitar Rp264,22 triliun pada tahun 2023 (dengan asumsi kurs Rp16.210 per dolar AS). Pembelian Tokopedia disebut sebagai salah satu faktor yang mendorong pertumbuhan tersebut.
"Setelah mengakuisisi Tokopedia, TikTok Shop menjadi platform e-commerce terbesar kedua di Asia Tenggara," demikian dikutip dalam laporan Momentum Works berjudul Ecommerce in Southeast Asia 2024, Selasa (16/7/2024).

Hal Wajar
Sekretaris Jenderal Asosiasi E-Commerce Indonesia (idEA) Budi Primawan menyatakan bahwa pihaknya menangani isu tersebut secara seimbang dan meminta masyarakat serta pelaku bisnis untuk tidak berspekulasi di luar pernyataan resmi.
Ia menekankan bahwa TikTok telah menyatakan komitmennya untuk terus melakukan investasi di Tokopedia serta ekosistem digital Indonesia.
"Dari sudut pandang asosiasi, dinamika integrasi platform atau penyesuaian model bisnis adalah hal yang biasa dalam industri digital global," ujar Budi saat dihubungi Bisnis pada Rabu (4/1/2026).
Menurut Budi, inti dari idEA adalah memastikan kelangsungan ekosistem e-commerce, kepastian usaha bagi para penjual khususnya UMKM serta menjaga perlindungan konsumen. Selain itu, idEA terus mendorong komunikasi dan dialog yang terbuka antara pelaku industri dengan pemerintah agar setiap perkembangan di sektor e-commerce sesuai dengan peraturan yang berlaku dan kepentingan nasional.
"Assosiasi akan terus mengawasi perkembangan ini untuk memastikan iklim usaha digital yang sehat dan berkelanjutan," ujar Budi.
Posting Komentar