Operasi Falcon 9 Starlink Dihentikan, Roket Berisiko Gagal Mendarat

Table of Contents

smelectronik, JAKARTA — SpaceXmenunda sementara penggunaan armada roket Falcon 9 setelah mengalami gangguan teknis selama misi peluncuran satelitStarlink. 

Perusahaan penerbangan luar angkasa milik Elon Musk sedang melakukan penyelidikan menyeluruh terhadap kejadian aneh pada tahap atas roket.

Peristiwa tersebut dimulai ketika misi Starlink 17-32 diluncurkan dari Pangkalan Angkatan Luar Angkasa Vandenberg. Meskipun 25 satelit berhasil diantar ke orbit rendah Bumi (LEO), tahap kedua roket mengalami kondisi "tidak normal" setelah pemisahan beban.

Isu teknis ini menyebabkan roket tidak mampu melakukan pembakaran deorbit, sebuah langkah penting untuk membawa bagian roket kembali ke atmosfer Bumi agar dihancurkan dengan aman.

Akibatnya, komponen tersebut kini berada dalam orbit yang tidak diharapkan meskipun telah menjalani prosedur keselamatan otomatis.

Manajemen SpaceX mengatakan mereka sedang memperhatikan analisis data telemetri guna memastikan keselamatan penerbangan berikutnya.

"Tim sedang mengevaluasi data untuk mengidentifikasi penyebab dan tindakan perbaikan sebelum pesawat kembali terbang," demikian pernyataan resmi SpaceX yang diunggah melalui platform media sosial X, dikutip pada Kamis (5/2/2026).

Penangguhan ini menimbulkan ketidakpastian dalam operasional NASA, khususnya mengenai jadwal misi Crew-12 yang direncanakan akan diluncurkan setidaknya pada 11 Februari mendatang.

Tugas ini memiliki tingkat kepentingan yang sangat tinggi karena bertujuan untuk mengembalikan kemampuan awak Stasiun Luar Angkasa Internasional (ISS) ke kondisi normal.

Saat ini, ISS beroperasi dengan jumlah awak yang minimal atau disebut sebagai "awak kerangka" sebanyak tiga orang sejak 15 Januari, setelah adanya evakuasi medis mendadak yang mengembalikan astronot Crew-11 lebih awal. Percepatan peluncuran Crew-12 semula direncanakan untuk mengisi kekosongan tersebut.

Badan Penerbangan dan Ruang Angkasa Nasional (NASA) memastikan keterlibatan tim Kru Komersial mereka dalam penyelidikan untuk mengevaluasi risiko sebelum memberikan izin peluncuran bagi astronot. FAA bertindak sebagai pemimpin investigasi dalam kejadian ini.

Administrator Asosiasi NASA Amit Kshatriya menyatakan bahwa pihaknya terus berupaya memenuhi jendela peluncuran yang ditentukan, tetapi keputusan akhir sangat tergantung pada hasil investigasi teknis.

"Kami terus berupaya mendekati jendela peluncuran Crew-12. Namun, sekali lagi, hal ini akan bergantung pada alasan pengembalian ke penerbangan (return-to-flight rationale), di mana kami bekerja sama sangat dekat dengan FAA dan SpaceX," ujar Kshatriya dalam konferensi pers di Amerika Serikat, Selasa (3/2/2026).

Meskipun mengalami kegagalan, SpaceX menyatakan bahwa kendaraan berhasil melakukan "pasivasi" atau pembuangan sisa bahan bakar agar tidak terjadi ledakan.

Mengutip dari Space, Rabu (4/2/2026), ilmuwan astronom Jonathan McDowell mengatakan manuver ini mengurangi orbit roket hingga ketinggian 110 kilometer, yang diperkirakan akan mempercepat proses masuk kembali ke atmosfer.

Sebagai informasi, Falcon 9 adalah roket yang paling sering diluncurkan di dunia, dengan rekor sebanyak 165 kali peluncuran pada tahun 2025. Tingkat kehandalan roket ini sangat tinggi, karena semua misi tahun lalu berhasil dilaksanakan.

Satu-satunya ketidaknormalan yang mencolok tercatat pada bulan Maret tahun lalu, saat tahap pertama Falcon 9 mengalami kegagalan mendarat dan hancur di laut akibat kebocoran bahan bakar. Pada masa itu, SpaceX hanya memerlukan waktu sepekan untuk menyelesaikan penyelidikan dan kembali beroperasi.

Posting Komentar