Pejabat Senior OpenAI George Osborne: Negara yang Tidak Adopsi AI Terancam Tertinggal

Table of Contents
Pejabat Senior OpenAI George Osborne: Negara yang Tidak Adopsi AI Terancam Tertinggal

Peran Kecerdasan Buatan dalam Menentukan Kekuatan Ekonomi Global

Pergeseran pusat kekuatan ekonomi global kini semakin ditentukan oleh kemampuan negara-negara dalam mengadopsi kecerdasan buatan (AI). Dalam persaingan antara Amerika Serikat dan Tiongkok, adopsi AI tidak lagi dianggap sebagai pilihan kebijakan teknologi, melainkan strategi utama untuk mempertahankan daya saing nasional. Hal ini disampaikan oleh George Osborne, pejabat senior OpenAI sekaligus mantan Menteri Keuangan Inggris, saat berbicara dalam AI Impact Summit di New Delhi.

Osborne yang kini memimpin program “for countries” di OpenAI, perusahaan kecerdasan buatan berbasis di San Francisco dengan valuasi sekitar USD 500 miliar atau setara Rp 8.460 triliun (kurs Rp 16.920 per dolar AS), menekankan bahwa adopsi AI kini menjadi kebutuhan strategis. Ia memperingatkan agar negara-negara tidak sampai tertinggal. Tanpa strategi AI yang serius, negara bisa kehilangan daya tarik ekonomi sehingga tenaga kerja memilih berpindah ke ekosistem yang lebih maju secara teknologi.

Dilema Negara-Negara di Luar AS dan Tiongkok

Negara-negara di luar Amerika Serikat dan Tiongkok menghadapi dilema strategis dalam menyeimbangkan kebutuhan mengikuti revolusi teknologi sambil menjaga kedaulatan nasional. Osborne menyebut bahwa banyak negara menghadapi dua tantangan yang bertentangan sekaligus. Kekhawatiran akan tertinggal menimbulkan pertanyaan kritis: “Apakah kita melewatkan revolusi teknologi besar ini? Bagaimana kita menjadi bagian darinya? Bagaimana memastikan perusahaan dan masyarakat kita merasakan manfaatnya?”

Di sisi lain, ketergantungan pada sistem AI yang dikendalikan dari negara lain menimbulkan risiko bagi kedaulatan mereka. Osborne menekankan bahwa ada bentuk kedaulatan lain, yaitu jangan sampai tertinggal karena jika itu terjadi, negara akan menjadi lebih lemah, lebih miskin, dan tenaga kerja akan enggan untuk tetap tinggal.

Ambisi Amerika Serikat dalam Memperkuat Dominasi Teknologi

Pernyataan tersebut muncul ketika penasihat senior AI Gedung Putih, Sriram Krishnan, menegaskan ambisi Amerika Serikat untuk mempertahankan dominasi teknologi. Ia menyatakan, “Kami ingin memastikan dunia menggunakan model AI kami.” Dia juga mengkritik regulasi Uni Eropa, menyatakan bahwa EU AI Act tidak benar-benar kondusif bagi wirausaha yang ingin membangun teknologi inovatif. Ia menegaskan akan terus menyuarakan penolakannya terhadap regulasi tersebut.

Meski demikian, narasi bahwa hanya dua negara adidaya yang mampu memimpin AI tidak sepenuhnya diterima. Mark Surman dari Mozilla menyebut bahwa gagasan bahwa negara selain Tiongkok dan Amerika Serikat tidak akan mampu membangun sesuatu yang besar adalah premis yang keliru. Ia menilai hal ini hanya akan menguntungkan perusahaan-perusahaan di dua negara tersebut.

Perspektif Afrika dan Kolaborasi Lokal

Pandangan serupa datang dari Afrika. Kevin Degila dari badan digital pemerintah Benin menegaskan bahwa bagi mereka, ini bukan soal Amerika Serikat atau Tiongkok. Ia menyatakan, “Kami adalah orang Afrika dan tugas kami adalah berkolaborasi untuk membangun AI kami sendiri.” Ia juga menyebut bahwa negara mereka mengembangkan sistem AI publik berbasis 64 bahasa lokal, serta memadukan teknologi Amerika dan Tiongkok dengan kumpulan data domestik. Menurutnya, “Anthropic dan OpenAI tidak menjangkau para petani.”

Urgensi Kepemimpinan Politik dalam Adopsi AI

Selain itu, mantan Perdana Menteri Inggris Rishi Sunak, yang kini menjabat sebagai penasihat senior di Microsoft dan perusahaan kecerdasan buatan Anthropic, menekankan urgensi kepemimpinan politik. Ia menyatakan, “Jika Anda seorang perdana menteri, hanya ada beberapa hal yang bisa Anda dorong secara pribadi, dan ini harus menjadi salah satunya. AI bukan isu masa depan. Ini isu yang harus ditindaklanjuti hari ini.”

Kesimpulan

Dengan demikian, peringatan Osborne bukan sekadar soal adopsi teknologi, melainkan tentang posisi strategis negara dalam arsitektur ekonomi global yang tengah dibentuk oleh kecerdasan buatan. Pemahaman mendalam tentang AI dan strategi penggunaannya menjadi kunci untuk tetap relevan dan kompetitif dalam era digital yang berkembang pesat.

Posting Komentar