Peneliti BRIN: Lubang Raksasa Aceh Bukan Sinkhole

Fenomena Longsoran di Aceh Tengah Mengkhawatirkan Masyarakat
Fenomena lubang besar yang meruntuhkan tebing di Desa Pondok Balek, Kecamatan Ketol, Aceh Tengah, telah menimbulkan kekhawatiran bagi masyarakat setempat. Fenomena mirip sinkhole yang terjadi sejak beberapa tahun di kawasan tersebut kini terus meluas hingga menyasar lahan pertanian di sekitarnya.
Kepala Pusat Riset Kebencanaan Geologi Badan Riset dan Inovasi Nasional (BRIN), Adrin Tohari menjelaskan bahwa peristiwa ini termasuk sebagai bencana longsor karena lapisan tufanya tidak padat, sehingga mudah tergerus dan runtuh. Ia menilai meski mirip dengan sinkhole, ini suatu jenis fenomena geologi yang berbeda.
Menurut Adrin, secara geologi kawasan tersebut tidak tersusun oleh batu gamping yang lazim menjadi penyebab sinkhole, melainkan oleh endapan piroklastik aliran yang berupa material tufa hasil aktivitas Gunung Geurundong yang sudah tidak aktif saat ini. Material ini tergolong muda secara geologis dan belum mengalami pemadatan sempurna, sehingga sifatnya rapuh dan mudah runtuh.
“Yang terjadi di Aceh Tengah itu sebenarnya fenomena longsoran, bukan sinkhole,” kata Adrin melalui keterangan tertulisnya pada Jumat, 20 Februari 2026. Ia menambahkan bahwa dari citra satelit Google Earth sejak 2010, kawasan tersebut sebenarnya telah menunjukkan adanya lembah atau ngarai kecil.
Longsor yang terbentuk sejak lama ini memicu proses erosi dan longsor susulan yang terus berlangsung sehingga lembah tersebut semakin melebar dan memanjang. Makanya, ketika dicek dengan satelit sangat mudah untuk dipantau bentuk lubangnya dari kejauhan.
Penyebab Utama Longsoran
Menurut Adrin, faktor geologi serta hujan lebat menjadi pemicu utama semakin meluasnya longsoran ini. Terlebih, batuan tufa yang rapuh mudah jenuh oleh air, sehingga kehilangan daya ikat dan akhirnya runtuh. Kemiringan lereng yang curam akibat proses longsoran sebelumnya juga memperparah kondisi tersebut.
Adrin menjelaskan bahwa air permukaan dari saluran irigasi perkebunan turut berkontribusi terhadap percepatan longsor. Air yang mengalir deras dan meresap ke dalam tanah meningkatkan kelembaban lapisan tufa sehingga memperbesar risiko runtuhan. “Jika saluran irigasi terbuka dan air terus masuk ke dalam tanah, maka lapisan yang sudah rapuh itu menjadi semakin tidak stabil,” ujarnya.
Pentingnya Mitigasi Bencana
Ia menekankan pentingnya mitigasi, terutama pengendalian air permukaan agar tak meresap ke dalam tanah. Selain itu, juga perlu pemetaan zona bahaya dan pemasangan sistem peringatan dini longsor di kawasan tersebut. Adrin mengingatkan agar masyarakat selalu waspada terhadap tanda-tanda awal, seperti munculnya retakan tanah atau amblesan kecil baru di dekat kawasan ini.
Langkah-Langkah Mitigasi yang Dianjurkan
Beberapa langkah mitigasi yang dapat dilakukan antara lain:
- Pengendalian air permukaan: Membuat saluran drainase yang efektif untuk mengalirkan air permukaan jauh dari area yang rentan.
- Pemetaan zona bahaya: Melakukan survei dan pemetaan daerah yang rawan longsor untuk memberikan informasi kepada masyarakat.
- Sistem peringatan dini: Memasang alat deteksi dini untuk mengidentifikasi tanda-tanda longsor sebelum terjadi.
- Edukasi masyarakat: Memberikan pengetahuan tentang tanda-tanda awal longsoran, seperti retakan tanah atau amblesan kecil.
- Pengawasan lingkungan: Memastikan bahwa aktivitas manusia, seperti pembangunan atau penggunaan lahan, tidak memperparah kondisi geologis.
Dengan upaya-upaya ini, diharapkan masyarakat dapat lebih siap menghadapi ancaman bencana longsor yang terus berkembang di wilayah Aceh Tengah.
Posting Komentar