Penelitian Doktor Unej Tuntaskan Masalah Resistensi Antibiotik Salmonella

Dosen dan peneliti dari Fakultas Pertanian Teknologi Universitas Jember (Unej) mengembangkan pengobatan alternatif untuk mengatasi krisis ketahanan antibiotik. Penelitiannya dimulai dari kebutuhan mendesak infeksi secara global.Salmonella entericayang masuk dalam sepuluh penyebab utama kematian akibat penyakit yang disebabkan oleh makanan, sekaligus menjadi salah satu bakteri dengan tingkat ketahanan antibiotik paling tinggi di dunia pada tahun 2024.
"Ketergantungan terhadap antibiotik tradisional, sementara inovasi obat baru mengalami stagnasi selama beberapa dekade, memperkuat kebutuhan akan pendekatan pengobatan alternatif," ujar Riska Ayu Febrianti, peneliti tersebut. Riska merupakan salah satu dari tiga lulusan pertama Program Doktor Bioteknologi Unej dan pengobatan alternatif ini menjadi tema disertasinya.
Melalui disertasinya, Riska mengembangkan terapi berbasis bakteriofag, yaitu virus yang secara khusus menyerang dan menghancurkan bakteri patogen. Dengan menggunakan teknologi rekayasa genom CRISPR/Cas9, ia mengubah bakteriofag lokal agar mampu menyerang berbagai jenis bakteri yang lebih luas. Bakteriofag hasil modifikasi ini tidak hanya efektif dalam melawan satu jenis Salmonella, tetapi juga mampu menghancurkan dinding sel beberapa jenis lain yang sering menyebabkan infeksi pada manusia.
"Penelitian ini menitikberatkan pada bakteriofag sebagai agen terapeutik alternatif yang lebih akurat, tidak mudah menimbulkan resistensi, dan aman bagi inang," katanya menjelaskan, dikutip dari pernyataan tertulis pada Rabu, 4 Februari 2026.
Hasil penelitian tersebut juga telah dipublikasikan dalam jurnal internasional ternama yang terindeks Scopus Q1, serta disajikan dalam berbagai forum ilmiah internasional, termasuk Pertemuan Tahunan ke-76 Society for Biotechnology di Jepang dan konferensi biosains nasional maupun internasional lainnya.
Di balik prestasi ilmiahnya, Riska mengakui bahwa proses penelitian doktoral merupakan perjalanan panjang yang membutuhkan ketekunan dan ketahanan mental. Salah satu momen paling berkesan, menurutnya, adalah saat harus bekerja lembur di laboratorium hanya untuk mengamati pertumbuhan dan menganalisis sampel. "Dari situ saya belajar bahwa bioteknologi bukan hanya sekadar angka, tetapi tentang memahami kehidupan pada tingkat molekuler yang sangat presisi," katanya.
Riska mengakui bahwa ia mendapatkan bantuan dari dorongan Profesor Erlia Narulita sebagai dosen pembimbing. Demikian pula dengan dukungan dari keluarganya. "Saya berharap menjadi ahli yang mumpuni dan memberikan dampak nyata melalui inovasi sains, khususnya dalam bidang bioteknologi dan penelitian bakteriofag."
Posting Komentar