Status Gunung Lewotobi Laki-laki Naik Jadi Waspada

Penurunan Status Gunung Lewotobi Laki-laki dari Level III ke Level II
Badan Geologi Kementerian Energi dan Sumber Daya Mineral (ESDM) telah menurunkan status Gunung Lewotobi Laki-laki dari Level III (Siaga) menjadi Level II (Waspada) pada Jumat, 20 Februari 2026. Keputusan ini diambil setelah dilakukan analisis terhadap berbagai parameter aktivitas vulkanik gunung yang terletak di Flores, Nusa Tenggara Timur (NTT).
Plt. Kepala Badan Geologi, Lana Saria, menjelaskan bahwa penurunan status ini didasarkan pada hasil analisis visual dan instrumental. Menurutnya, aktivitas vulkanik Gunung Lewotobi Laki-laki selama Januari hingga Februari 2026 mengalami penurunan secara signifikan.
"Secara keseluruhan, parameter visual, seismik, dan deformasi menunjukkan bahwa Gunung Lewotobi Laki-laki selama periode tersebut didominasi oleh dinamika fluida dangkal atau hidrotermal yang bersifat fluktuatif," ujarnya dalam pernyataannya.
Data Kegempaan dan Perkembangan Aktivitas Vulkanik
Data kegempaan Gunung Lewotobi Laki-laki pada periode 12-19 Februari 2026 menunjukkan adanya lima kali gempa guguran, 11 kali gempa embusan, 114 kali gempa tremor nonharmonik, sekali gempa tornillo, 90 kali gempa low frequency (LF), 22 kali gempa vulkanik dalam, tujuh kali gempa tektonik lokal, 28 kali gempa tektonik jauh, dan tiga kali getaran banjir lahar.
Lana menyampaikan bahwa selama periode pengamatan Januari hingga Februari 2026, aktivitas vulkanik Gunung Lewotobi Laki-laki menunjukkan tren penurunan secara bertahap. Ia menekankan bahwa parameter kegempaan memperlihatkan penurunan yang konsisten dalam satu bulan terakhir.
Aktivitas kegempaan pada periode Januari hingga pertengahan Februari 2026 didominasi oleh gempa tremor nonharmonik dan gempa LF dengan jumlah yang fluktuatif harian. Peningkatan LF sempat terekam pada beberapa stasiun, dengan beberapa kejadian mencapai amplitudo tinggi (overscale). Namun, peningkatan ini tidak disertai kenaikan gempa vulkanik dalam maupun vulkanik dangkal, serta tidak diikuti inflasi deformasi.
Faktor Hujan dan Respons Hidrotermal
Lana menjelaskan bahwa kondisi hujan dalam satu minggu terakhir berkontribusi pada peningkatan LF yang lebih konsisten. Hal ini lebih berkaitan dengan respons hidrotermal dangkal akibat infiltrasi air. Selain itu, tercatat satu kejadian gempa tornillo pada 13 Februari 2026.
Gempa vulkanik dalam tercatat dalam jumlah rendah dan relatif stabil tanpa menunjukkan tren peningkatan progresif. "Kondisi ini mengindikasikan bahwa tekanan dari kedalaman tidak mengalami peningkatan signifikan," katanya.
Tidak Ada Indikasi Erupsi Mendekat
Menurut dia, tidak teramati gempa vulkanik dangkal yang menunjukkan tidak adanya bukaan rekahan baru atau migrasi magma menuju zona dangkal. Alhasil, berdasarkan pola historis aktivitas Gunung Lewotobi Laki-laki, peningkatan signifikan gempa vulkanik dangkal biasanya berasosiasi dengan peningkatan aktivitas erupsi. "Nihilnya gempa vulkanik dangkal merupakan indikator bahwa sistem dangkal tidak berada dalam kondisi persiapan erupsi," ucapnya.
Imbauan kepada Masyarakat
Lana mengimbau masyarakat untuk tidak melakukan aktivitas dalam radius 4 kilometer dari pusat erupsi serta tetap tenang dan mengikuti arahan pemerintah setempat. Selain itu, masyarakat di sekitar wilayah rawan bencana agar mewaspadai potensi banjir lahar apabila terjadi hujan lebat, terutama pada daerah aliran sungai yang berhulu di puncak Lewotobi Laki-laki, seperti di Nawakote, Boru, Padang Pasir, Klatanlo Dulipali, Nobo, Hokeng Jaya, hingga Nurabelen.
Posting Komentar