Fakta-fakta Longsor Cisarua yang Mengubur Tiga Kampung

Table of Contents

GERAKAN tanah atau longsormenyebabkan tiga desa di Desa Pasirlangu, Kecamatan Cisarua, Kabupaten Bandung Barat, pada hari Sabtu, 24 Januari 2026, sekitar pukul 02.30 WIB, yaitu Kampung Pasirkuning RT 05/RW 11, Kampung Pasirkuda RT 01/RW 10, dan Kampung Babakan Cibudah RT 06/RW 07. Longsoran masih berpotensi terjadi akibat pergerakan tanah dan aliran material tambahan.

"Kejadian serupa bisa terjadi di lereng dan lembah yang berada di kaki Gunung Burangrang karena memiliki ciri morfologi dan geologi yang sama," ujar Pelaksana Tugas KepalaBadan GeologiLana Saria dalam laporan hasil pengujianlongsor Cisarua, Selasa, 3 Februari 2026.

Kemiringan lereng curam

Secara morfologis, lokasi bencana terletak di kawasan pegunungan vulkanik dengan relief sedang hingga curam. Kemiringan lereng bagian atas dari titik longsoran cukup curam, mencapai lebih dari 35 derajat. Beberapa area lereng memiliki kemiringan yang sangat curam, yaitu lebih dari 55 derajat, sementara lereng bagian tengah dan bawah memiliki tingkat kemiringan yang agak curam antara 8–16 derajat. Bentuk morfologi lereng Burangrang merupakan hasil dari proses vulkanisme masa lalu yang kemudian mengalami proses eksogen seperti pelapukan, erosi, dan denudasi yang intensif. Terdapat bentuk-bentuk morfologi bekas longsoran lama pada bagian lereng tengah dan bawah di beberapa titik.

Endapan gunung api tua

Kondisi geologis Burangrang berupa endapan gunung berapi tua yang tidak terpisah, terdiri dari batu breksi vulkanik, tuf, lava andesit-basalt, serta material piroklastik yang sudah mengalami pelapukan. Sebagai gunung berapi jenis strato, hasil pelapukan lanjut dari endapan piroklastik menghasilkan tanah yang relatif tebal dan menyebabkan tanah menjadi gembur, renggang, serta mudah terlepas.

Kerentanan longsor menengah

Lereng atas gunung umumnya ditumbuhi tumbuhan keras berupa pohon pinus, sedangkan di lereng bagian tengah terdapat kebun dan lahan pertanian milik warga. Tanaman yang dikelola di dekat aliran sungai sebagian besar berupa sayuran seperti selada, cabai, dan tomat. Sebelum bencana terjadi, masyarakat memanfaatkan air dari sumber mata air di sekitar lembah dengan membuat kolam penampung. Tingkat kerentanan gerakan tanah di lokasi bencana termasuk kriteria menengah. Jenis gerakan tanah di Desa Pasirlangu berupa longsoran di bagian hulu dan berkembang menjadi aliran material pecahan (debris flow) yang terdiri dari tanah, lumpur, kayu, dan batu dengan ukuran 1 hingga 3 meter.

Gawir mahkota longsor di lereng curam

Gawir mahkota longsor terletak pada ketinggian 2.000 meter di atas permukaan laut, berada di lereng yang sangat curam. Tinggi gawir mahkota longsor sekitar 80 meter dengan lebar antara 40 hingga 60 meter. Sementara itu, lebar tanah yang bergerak di bagian tengah lereng sekitar 100 meter. Panjang keseluruhan aliran longsor mencapai 3,5 kilometer dengan luas area yang terkena dampak sekitar 26 hektar. Aliran utama longsor mengarah ke barat dan juga menyimpang ke selatan.

Menurut Lana, longsoran terjadi karena beberapa hal, seperti kemiringan lereng Burangrang yang cukup hingga sangat curam, serta kondisi geologi berupa material vulkanik dari endapan gunung api lama yang tebal. Selain itu, tingkat pelapukan yang tinggi menyebabkan penurunan kekuatan geser tanah dan batuan, serta erosi yang tinggi di sepanjang alur sungai. “Curah hujan yang tinggi melebihi 220 milimeter per hari berdasarkan data BMKG menjadi penyebab tanah bergerak,” ujarnya.

Interpretasi tingginya tingkat erosi menunjukkan bahwa terdapat sedikitnya 2–3 kali pengiriman material ke arah lokasi bencana. Berdasarkan simulasi model, longsoran dari puncak Burangrang berlangsung selama 1.500 detik atau sekitar 20–25 menit hingga mencapai daerah dataran.

Badan Geologi menyarankan beberapa hal, antara lain pemindahan penduduk yang tinggal di daerah rawan bencana, terkena tanah longsor, dan rumahnya mengalami kerusakan parah ke lokasi yang lebih aman. Wilayah yang berada dalam zona terancam masih bisa dipertimbangkan untuk ditempati kembali dengan adanya tindakan mitigasi struktural. “Jangan melakukan aktivitas di sekitar alur sungai yang bermuara di lereng atas atau berasal dari jalur longsoran,” kata Lana.

Penguatan lereng atau tanggul beserta sistem drainase harus diperkuat di area aliran yang mengalami perubahan arah guna mencegah erosi sungai, aliran material sampah, dan banjir lumpur yang menimpa permukiman. Selanjutnya dilakukan normalisasi sungai serta pembuatan saluran drainase dan sabo untuk mengendalikan tingkat erosi air dan tanah serta mengatur aliran sungai.

Selain itu, melakukan penanaman kembali tanaman berakar kuat dan dalam guna meningkatkan daya ikat tanah serta mengurangi risiko erosi. Juga dilakukan pengawasan terhadap longsoran di lereng dan alur air di lembah-lembah lain, pemasangan tanda bahaya longsor di area yang berpotensi mengalami pergerakan tanah, serta pembuatan jalur evakuasi menuju tempat yang aman.

Di sisi lain, hingga hari ke-11, Selasa, 3 Februari 2026, pukul 16.30 WIB, akumulasi dari hasil operasi tim gabungan SAR, yaitu total penemuan jenazah korban longsor sebanyak 85 kantong jenazah. Berdasarkan data tim Disaster Victim Identification (DVI) hingga pukul 16.00 WIB, terdapat 66 korban yang telah diidentifikasi.

Posting Komentar