Indef Minta Pemerintah Percepat Kemandirian Teknologi untuk Tingkatkan Hilirisasi Mineral

Kunci Penguasaan Teknologi dalam Pengembangan Industri Mineral
Indonesia memiliki cadangan mineral kritis yang melimpah dan menjadi salah satu pemain penting dalam rantai pasok global. Saat ini, kebutuhan dunia terhadap mineral kritis seperti litium, kobalt, grafit, tembaga, dan rare earth elements diproyeksikan terus meningkat hingga 2040. Namun, penguasaan teknologi pengolahan masih menjadi tantangan, karena sebagian besar teknologi yang digunakan masih berasal dari luar negeri.
Direktur Kolaborasi Internasional INDEF, Imaduddin Abdullah, menilai bahwa penguasaan teknologi menjadi faktor kunci agar Indonesia tidak hanya menjadi pemasok bahan baku, tetapi juga mampu meningkatkan nilai tambah melalui hilirisasi industri mineral.
"Teknologi ini menjadi kunci, dan ke depan menurut saya pertama memang penting membangun teknologi yang sifatnya dalam negeri, tapi itu nggak mudah. Makanya saya melihat sebenarnya potensi utamanya adalah kerja sama teknologi dengan negara-negara yang memang sudah punya teknologi tersebut," ucap Imaduddin dalam acara diskusi Mineral Kritis Indonesia di Tengah Krisis Energi Dunia yang digelar di Hotel Pullman, Thamrin, Menteng, Jakarta Pusat, Rabu (17/6/2026).
Bentuk Kolaborasi yang Efektif
Salah satu bentuk kolaborasi yang dapat dimanfaatkan adalah melalui skema joint venture antara perusahaan nasional dan perusahaan asing. Imaduddin menilai, model tersebut berpotensi memperkuat transfer pengetahuan (transfer knowledge) bagi sumber daya manusia Indonesia.
"Joint Venture sebenarnya sudah ada beberapa perusahaan dalam negeri dengan perusahaan luar negeri untuk punya Joint Venture dan ini menurut saya bisa membangun atau memunculkan transfer knowledge," ungkapnya.
Namun, Imaduddin mengingatkan bahwa transfer pengetahuan tidak otomatis diikuti dengan alih teknologi (transfer technology). Oleh sebab itu, Indonesia perlu memiliki strategi yang lebih kuat untuk membangun kemampuan teknologi secara mandiri.
Peran Lembaga dalam Pengembangan Teknologi Nasional
Ia berharap berbagai lembaga, seperti Badan Industri Mineral, Satuan Tugas Percepatan Hilirisasi, hingga Badan Riset dan Inovasi Nasional (BRIN), dapat berperan dalam mempercepat pengembangan teknologi nasional.
"Yang paling penting adalah teknologi yang dibangun. Makanya saya melihat sebenarnya kuncinya adalah ke depan kita punya mineral tapi juga perlu mendorong teknologi dalam negeri untuk lebih berkembang," tuturnya.
Strategi yang Diperlukan
Untuk mencapai tujuan tersebut, diperlukan langkah-langkah strategis yang melibatkan kolaborasi antara sektor swasta, pemerintah, dan lembaga riset. Beberapa hal yang perlu diperhatikan antara lain:
- Peningkatan kapasitas SDM: Meningkatkan kualitas sumber daya manusia melalui pelatihan dan program pendidikan teknologi.
- Investasi dalam riset: Meningkatkan anggaran dan fokus pada riset inovatif yang relevan dengan kebutuhan industri.
- Kerja sama internasional: Memperkuat hubungan dengan negara-negara yang memiliki teknologi unggul untuk mempercepat proses transfer teknologi.
- Regulasi yang mendukung: Membuat kebijakan yang mendorong investasi dan pengembangan teknologi dalam negeri.
Tantangan dan Peluang
Meski tantangan besar menghadang, peluang untuk Indonesia sangat besar. Dengan memanfaatkan sumber daya alam yang melimpah dan membangun sistem teknologi yang mandiri, Indonesia dapat menjadi produsen utama produk hilir dari mineral kritis.
Dalam konteks global, permintaan akan mineral kritis akan terus meningkat, terutama dengan perkembangan teknologi dan transisi energi bersih. Jika Indonesia mampu memaksimalkan potensinya, maka negara ini bisa menjadi bagian penting dari rantai pasok global yang berkelanjutan.
Posting Komentar