Persaingan Otomotif Berubah, Teknologi Jadi Kunci

Pasar otomotif nasional kini mengalami perubahan signifikan. Dominasi merek Jepang mulai dihadapi oleh produsen asal Tiongkok yang semakin agresif. Persaingan kini tidak hanya terbatas pada harga dan kapasitas produksi, tetapi juga penguasaan teknologi kendaraan. Perubahan ini sudah mulai terlihat di pasar domestik.
Data dari GAIKINDO menunjukkan peningkatan penjualan wholesales kendaraan elektrifikasi pada Februari 2026 sebesar 25% dibandingkan Januari, mencapai 18.721 unit. Salah satu pemain yang sangat aktif adalah BYD, dengan penjualan ritel yang melonjak 42,9% dari 2.516 unit menjadi 3.596 unit. Hal ini menunjukkan bahwa tren penggunaan kendaraan listrik semakin meningkat.
Namun, persaingan tidak hanya terjadi di bidang kendaraan listrik. Industri otomotif global kini bergerak menuju arah software-defined vehicle (SDV), yang menitikberatkan pada perangkat lunak, sensor, dan kecerdasan buatan. Riset Mobility Foresight memproyeksikan pertumbuhan pasar SDV di Indonesia hampir empat kali lipat, dari US$ 18,2 miliar pada 2025 menjadi US$ 69,5 miliar pada 2031.
Di tengah pergeseran ini, Indonesia dinilai memiliki posisi strategis. Ketua I GAIKINDO, Jongkie Sugiarto, menyebut potensi pasar domestik masih besar. "Rasio kepemilikan mobil nasional baru sekitar 99 unit per 1.000 penduduk, jauh di bawah Malaysia yang mencapai 450 unit dan Thailand 270 unit," ujarnya dalam keterangannya.
Persaingan diperkirakan akan terjadi di seluruh segmen, mulai dari kendaraan listrik, hybrid, hingga konvensional. Untuk merespons hal ini, pemerintah memperkuat kebijakan lokalisasi industri. Kementerian Perindustrian sedang menyiapkan skema insentif otomotif 2026 yang lebih tersegmentasi, mencakup persyaratan TKDN, standar emisi, serta klasifikasi teknologi kendaraan.
Menteri Perindustrian Agus Gumiwang Kartasasmita menyatakan pendekatan ini dibuat lebih rinci untuk menyesuaikan karakteristik tiap segmen. Meski begitu, penguatan komponen lokal dinilai belum cukup untuk menjaga daya saing jangka panjang. Mengacu pada pengalaman China, industri otomotif perlu memperkuat kapabilitas teknologi, integrasi sistem, serta rantai pasok agar tetap relevan di pasar global.
Transformasi ini mendorong perusahaan teknologi otomotif global meningkatkan investasi di perangkat lunak. Laporan MarketsandMarkets mencatat, kendaraan premium saat ini dapat memuat hingga 150 juta baris kode yang tersebar di ratusan komponen digital. Bosch melihat tren ini sebagai peluang pertumbuhan baru. Perusahaan memproyeksikan pasar perangkat lunak otomotif global mencapai sekitar 200 miliar euro pada 2030.
"Dalam kompetisi internasional, faktor penentu bukan hanya biaya, melainkan kemampuan diferensiasi," ujar Chairman Robert Bosch GmbH Stefan Hartung dalam keterangannya. Bosch telah mengembangkan berbagai solusi berbasis AI dan sensor, termasuk Bosch AI Extension Platform yang memungkinkan kendaraan mengenali pengemudi dan menyesuaikan fitur secara otomatis.
Selain itu, perusahaan juga mengembangkan sensor inersia untuk kendaraan otonom agar tetap mampu membaca posisi secara presisi tanpa bergantung penuh pada GPS. Di Indonesia, Bosch memperkuat ekosistem melalui pengembangan teknologi seperti electronic control unit (ECU), battery management system (BMS), serta sistem mobilitas terhubung.
Managing Director Bosch Indonesia, Pirmin Riegger, menyebut fokus perusahaan adalah membangun kapabilitas lokal dan memperluas kemitraan. Pada akhirnya, momentum lokalisasi hanya akan berdampak optimal jika industri nasional tidak berhenti pada manufaktur fisik, tetapi juga mampu menguasai teknologi yang menjadi inti kendaraan generasi berikutnya.
Posting Komentar