Ahli Jepang Bocorkan Penyebab Proyek Kereta Cepat Indonesia Tidak Maksimal

Tantangan Kereta Cepat di Indonesia Menurut Pengamat Jepang
Proyek kereta cepat di Indonesia kembali menjadi topik utama dalam diskusi transportasi di Jepang. Seorang pengamat transportasi Jepang, Hiroki Maebayashi, memberikan analisis mendalam tentang tantangan yang dihadapi proyek ini. Ia menilai bahwa masalah utamanya bukanlah teknologi, melainkan penerapan model operasi yang terlalu mirip dengan sistem China tanpa penyesuaian terhadap kondisi lokal.
Sistem Shinkansen Jepang dan Keterbatasannya
Maebayashi menjelaskan bahwa sistem Shinkansen Jepang dirancang untuk memenuhi kebutuhan khusus negara tersebut, yang memiliki wilayah pegunungan, kepadatan penduduk tinggi, dan kebutuhan transportasi antarkota yang sangat besar. Oleh karena itu, seluruh kereta Shinkansen menggunakan jalur khusus yang terpisah dari jalur kereta biasa.
Namun, ia menilai bahwa model ini tidak selalu cocok diterapkan di negara lain. "Jalur khusus Shinkansen merupakan solusi yang sesuai dengan kondisi Jepang. Namun di banyak negara, sistem seperti itu berpotensi menjadi fasilitas yang berlebihan," tulisnya di Diamond Online, Rabu (18/6/2026).
Masalah Terlalu Canggih
Ia juga menyoroti bahwa teknologi yang terlalu maju sering kali dipindahkan begitu saja tanpa proses penyesuaian dengan kebutuhan masyarakat setempat. Dalam konteks Indonesia, Maebayashi berpendapat bahwa salah satu kelemahan proyek kereta cepat adalah penerapan pola operasi dan spesifikasi yang sangat mirip dengan sistem kereta cepat China.
Menurutnya, pendekatan tersebut kurang memperhatikan kondisi geografis, ekonomi, dan pola perjalanan masyarakat Indonesia. "Penyebab kegagalan bukan semata-mata kereta cepat itu sendiri, tetapi kemungkinan karena sistem dan performa yang berlebihan dipindahkan begitu saja tanpa mempertimbangkan situasi lokal," ujarnya.
Sulit Bersaing dengan Maskapai Murah
Maebayashi juga mempertanyakan prospek model kereta cepat berkecepatan 250–350 kilometer per jam di Asia Tenggara. Menurutnya, untuk perjalanan jarak lebih dari 500 kilometer, maskapai penerbangan bertarif murah atau Low Cost Carrier (LCC) sudah menjadi pilihan utama masyarakat.
Situasi ini berbeda dengan Jepang, China, Korea Selatan, dan Taiwan yang membangun jaringan kereta cepat sebelum maskapai murah berkembang pesat. "Walaupun jaringan kereta cepat selesai dibangun sesuai rencana, akan sulit bersaing dengan maskapai LCC yang memiliki harga murah, waktu tempuh cepat, dan jaringan luas," katanya.
Malaysia Dinilai Lebih Realistis
Sebagai contoh alternatif, Maebayashi menunjuk Malaysia. Alih-alih membangun jaringan kereta cepat penuh, Malaysia memilih meningkatkan jalur kereta yang sudah ada. Melalui layanan ETS, perjalanan antara Kuala Lumpur dan Ipoh sejauh sekitar 200 kilometer dapat ditempuh dalam waktu sekitar 2,5 jam.
Meskipun menggunakan rel sempit berukuran 1.000 milimeter, Malaysia berhasil meningkatkan kecepatan hingga sekitar 145 kilometer per jam melalui elektrifikasi dan pembangunan jalur ganda. Menurutnya, model seperti ini jauh lebih sesuai untuk negara-negara Asia Tenggara.
Konsep Shinkansen Kecepatan Menengah
Maebayashi mengusulkan konsep yang di Jepang dikenal sebagai "Shinkansen Kecepatan Menengah" atau Medium-Speed Shinkansen. Konsep tersebut memanfaatkan peningkatan jalur kereta yang sudah ada untuk mencapai kecepatan sekitar 130 hingga 250 kilometer per jam tanpa harus membangun seluruh jaringan baru yang sangat mahal.
Pendekatan ini saat ini juga sedang dikaji di Jepang, termasuk untuk rute Sapporo–Asahikawa di Hokkaido. Menurutnya, kecepatan 150–200 kilometer per jam untuk jarak sekitar 200–300 kilometer justru lebih realistis bagi banyak negara Asia Tenggara dibandingkan membangun jaringan kereta cepat penuh berkecepatan 350 kilometer per jam.
Peluang Jepang di Pasar Perkeretaapian Asia Tenggara
Maebayashi menilai Jepang masih memiliki peluang untuk kembali memperkuat posisinya di pasar perkeretaapian Asia Tenggara. Namun, hal itu hanya dapat dicapai apabila Jepang menawarkan solusi yang disesuaikan dengan kebutuhan lokal, bukan sekadar mengekspor teknologi yang berhasil di dalam negeri.
"Infrastruktur transportasi tidak dapat dibangun hanya berdasarkan ambisi geopolitik. Jika Jepang ingin kembali menemukan peluang bisnis di sektor perkeretaapian, maka pendekatan yang sesuai dengan kondisi lokal menjadi hal yang mutlak," katanya.
Analisis ini muncul di tengah semakin ketatnya persaingan antara Jepang dan China dalam proyek-proyek infrastruktur transportasi di Asia, termasuk pembangunan kereta cepat dan modernisasi jaringan rel di berbagai negara berkembang.
Posting Komentar