Hadapi Tekanan Kurs, Xiaomi dan POCO Pantau Harga HP Secara Berkala

Table of Contents

Strategi Bisnis Xiaomi dan POCO di Tengah Fluktuasi Harga

Di tengah situasi pasar yang dinamis, Xiaomi Indonesia dan POCO menunjukkan strategi bisnis mereka dalam menghadapi fluktuasi nilai tukar. Kedua merek ini juga merespons proyeksi kenaikan harga smartphone pada kuartal III/2026.

Penetapan Value Produk yang Dinamis

Xiaomi Indonesia menyatakan bahwa penetapan nilai produk dipengaruhi oleh berbagai faktor. Oleh karena itu, perusahaan melakukan peninjauan berkala untuk memastikan bahwa nilai yang diberikan tetap mencerminkan kualitas dan inovasi produk.

Dengan misi Innovation for Everyone, Andi Renreng, Marketing Director Xiaomi Indonesia, menjelaskan bahwa perusahaan berkomitmen menghadirkan teknologi relevan dan bernilai dengan mempertimbangkan dinamika pasar serta ekspektasi konsumen. Langkah ini dilakukan untuk menjaga keseimbangan optimal antara performa dan kualitas.

“Di tahun 2026 ini, kami optimis untuk terus memperkuat posisi Xiaomi di Indonesia dengan memperluas ekosistem terpadu,” kata Andi kepada Bisnis pada Senin (4/5/2026).

Perluasan Ekosistem Terpadu

Perluasan ekosistem tersebut dilakukan melalui visi Human x Car x Home, yang menghubungkan smartphone, AIoT, hingga perangkat home appliances dalam satu pengalaman terintegrasi guna mendukung gaya hidup modern pengguna.

Berkat strategi tersebut, Xiaomi berhasil menempati posisi sebagai vendor smartphone nomor satu di Indonesia pada 2025 berdasarkan laporan Omdia.

Prinsip Extreme Performance dan Extreme Value

Sementara itu, Novita Krisutami, PR Manager POCO Indonesia, menjelaskan bahwa value produk POCO dibangun dari prinsip Extreme Performance, Extreme Value. Artinya, setiap produk harus memberikan performa maksimal dengan value yang tetap masuk akal untuk pengguna.

Dia menambahkan bahwa perusahaan terus melakukan peninjauan agar tetap relevan dengan dinamika pasar, tanpa menggeser fokus utama, yakni menghadirkan performa tinggi yang bisa langsung dirasakan pengguna.

Di tengah kondisi pasar yang semakin selektif, POCO masih melihat permintaan terhadap produk dengan value kuat, terutama yang mudah diakses konsumen.

“Termasuk melalui ketersediaan resmi produk POCO di berbagai kanal online,” ungkapnya.

Dampak Fluktuasi Nilai Tukar

Sebelumnya diberitakan, fluktuasi nilai tukar rupiah yang cenderung melemah terhadap dolar Amerika Serikat (AS) mulai memberi tekanan pada industri teknologi. Kondisi ini diperkirakan berdampak pada kenaikan harga smartphone hingga laptop, yang mulai terasa pada kuartal III/2026 seiring masuknya stok baru dengan biaya impor lebih tinggi.

Menurut Heru Sutadi, Direktur ICT Institute, dampak pelemahan rupiah umumnya tidak langsung terasa di pasar. Pelaku industri masih cenderung menahan harga dengan memanfaatkan stok lama serta kontrak sebelumnya.

“Kenaikan harga umumnya mulai terlihat pada kuartal III 2026, saat stok baru masuk dengan biaya impor lebih tinggi,” kata Heru kepada Bisnis pada Senin (27/4/2026).

Faktor Global dan Strategi Produsen

Dia menambahkan, jika depresiasi rupiah berlanjut, penyesuaian harga akan semakin meluas pada kuartal IV, terutama untuk segmen menengah dan premium. Meski demikian, sebagian pedagang kerap lebih cepat menaikkan harga dengan alasan penguatan dolar AS.

Menurut Heru, faktor global juga berperan besar dalam pembentukan harga. Penurunan pengiriman smartphone secara global dapat menahan harga sementara akibat melemahnya permintaan. Namun, jika terjadi kelangkaan chipset atau komponen, biaya produksi akan meningkat dan pada akhirnya diteruskan ke konsumen.

Heru menekankan bahwa strategi produsen sebaiknya tidak agresif dalam menaikkan harga. Efisiensi biaya, diversifikasi pemasok, hingga strategi promosi dinilai lebih efektif dalam menjaga daya beli.

“Tak ketinggalan, pendekatan bertahap dalam penyesuaian harga juga akan membantu menjaga permintaan tetap stabil di tengah tekanan biaya,” katanya.

Posting Komentar