China Jadi Angkatan Udara Kedua Terkuat Dunia, Setelah AS dengan 2.500 Pesawat
China Melampaui Rusia, Kini Jadi Angkatan Udara Terkuat Kedua di Dunia
China kini telah melampaui Rusia sebagai kekuatan udara terbesar kedua di dunia setelah Amerika Serikat. Dengan jumlah pesawat tempur modern yang mencapai sekitar 2.000 hingga 2.500 unit, angkatan udara Tiongkok, atau Angkatan Udara Tentara Pembebasan Rakyat (PLAAF), kini memiliki armada yang lebih besar dibandingkan Rusia.
Perkembangan ini tidak terlepas dari upaya modernisasi besar-besaran yang dilakukan oleh PLAAF. Armada tersebut diperkuat oleh berbagai jenis pesawat tempur generasi 4,5 dan generasi kelima yang diproduksi secara dalam negeri. Beberapa model yang menjadi andalan antara lain J-20 Mighty Dragon, J-35, J-16, dan J-10C. Pesawat-pesawat ini dilengkapi dengan radar AESA, sistem peperangan elektronik, serta kemampuan operasi berbasis jaringan.

Salah satu simbol utama transformasi PLAAF adalah pesawat tempur siluman J-20. Sejumlah analis memperkirakan bahwa Beijing kini telah mengoperasikan antara 200 hingga 300 unit J-20. Produksi tahunan J-20 juga dikabarkan telah melebihi 100 unit per tahun. Di sisi lain, program jet siluman J-35 mulai masuk tahap operasional, termasuk varian yang disiapkan untuk kapal induk. Kehadiran pesawat-pesawat ini akan memperkuat kemampuan proyeksi kekuatan udara dan laut Tiongkok di kawasan Pasifik Barat.
Selain pesawat siluman, PLAAF juga memperkuat tulang punggung kekuatan udaranya dengan sekitar 450 unit J-16 dan lebih dari 550 pesawat J-10 berbagai varian. Kombinasi ini memungkinkan China mempertahankan tingkat kesiapan tempur yang tinggi sekaligus meningkatkan kemampuan operasi dalam konflik berskala besar.
Perbandingan dengan Rusia
Rusia, di sisi lain, menghadapi tantangan dalam mempertahankan modernisasi armadanya akibat perang di Ukraina, sanksi Barat, serta hambatan pasokan komponen berteknologi tinggi. Program pesawat siluman Su-57 pun berjalan lebih lambat, dengan jumlah operasional yang diperkirakan baru sekitar 25–30 unit.
Perbedaan ini membuat China semakin unggul dalam jumlah pesawat tempur modern. Dengan produksi massal yang dilakukan, PLAAF mampu memperluas kekuatan udaranya di berbagai wilayah strategis seperti Laut China Selatan, Selat Taiwan, dan Pasifik Barat.
Infrastruktur Pendukung
Tidak hanya fokus pada jumlah pesawat, China juga sedang membangun ekosistem pendukung yang mencakup pesawat peringatan dini KJ-500, armada pengisian bahan bakar di udara, serta pesawat peperangan elektronik seperti J-16D. Infrastruktur ini memperluas jangkauan operasi PLAAF dan memperkuat kemampuan taktisnya.
Modernisasi ini dinilai telah mengubah keseimbangan militer di Indo-Pasifik. Meskipun Amerika Serikat masih unggul dalam pengalaman tempur, jaringan pangkalan global, armada pesawat siluman, serta sistem logistik dan aliansi militernya, Tiongkok semakin mendekati AS dalam aspek kuantitas dan kualitas kekuatan udara.
Masa Depan Angkatan Udara Tiongkok
Dengan kemampuan industri yang mumpuni, Tiongkok terus memperkuat posisinya sebagai kekuatan udara besar di dunia. Proyeksi kekuatan udara dan laut yang semakin kuat akan memberikan dampak signifikan terhadap dinamika geopolitik di kawasan Asia Pasifik. Kehadiran pesawat tempur modern yang mampu menembus pertahanan musuh serta infrastruktur pendukung yang lengkap menjadikan PLAAF sebagai ancaman nyata bagi dominasi udara Amerika Serikat.
Posting Komentar